Kompas.com - 23/06/2017, 21:47 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

Menebus dendam di Marawi

Ketika dua tahun lalu, mereka berseteru dengan Wali Kota Butig, Dimnatang Pansar, seputar pemilihan pemenang tender proyek pemerintah.

Konflik pun dengan cepat menjalar menjadi perang antar klan. Militer Filipina pun turun tangan membela Pansar.

Tapi, Maute yang terdesak malah mengumpulkan kelompok militan Islam lain dan mengumumkan afilisinya kepada kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Mereka juga mendeklarasikan perang terhadap pemerintah pusat. Dendam itu terbayarkan di Marawi.

Joseph Franco, peneliti senior di Rajaratnam School of International Studies yang kerap bekerjasama dengan militer Filipina menduga, manuver Maute menyatakan kesetiaan pada ISIS hanya gertakan.

Hal itu dilakukan sekadar untuk menakut-nakuti klan Pansar.

Dalam risetnya, Franco mengaku tidak menemukan bukti bahwa Farhana Maute mendapat pengaruh radikalisasi dari pihak lain.

"Dia sebenarnya cuma pengusaha," kata seorang perwira militer yang tinggal di Marawi kepada Reuters.

"Tapi klannya terlibat dalam perseteruan politik dengan Wali Kota Butig."

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.