Kompas.com - 03/06/2017, 17:00 WIB
EditorErvan Hardoko

Selain kain linen, kondom kuno juga dibuat dari usus atau empedu hewan yang dilembutkan dengan menggunakan belerang dan larutan alkali.

Di China, kondom kemungkinan dibuat dari kertas minyak dari bahan suter. Di Jepang kemungkinan kondom dibuat dari cangkang kurang-kura atau tanduk hewan sehingga bisa digunakan sebagai mainan seks saat suami mereka pergi.

Di masa-masa berikutnya, para pedagang Belanda memperkenalkan kondom "full size" yang dibuat dari bahan kulit kepada warga Jepang.

Di abad ke-18, kondom dengan berbagai ukuran dan kualitas sudah bisa dibeli di pub, tukang cukur, apotek, pasar, hingga teater.

Giovanni Giacomo Cassanova, playboy ternama di masa itu, menulis dalam memoarnya bahwa dia kerap meniup kondom sebelum menggunakannya.

Alasan Cassanova meniup kondom itu adalah untuk memeriksa adanya lubang di alat kontrasepsi itu.

Kondom baru diproduksi massal pada pertengahan abad ke-19 ketika Charles Goodyear mematenkan proses vulkanisir karet.

Awalnya, kondom karet berharga lebih mahal dibanding kondom dari bahan kulit hewan. Namun, kelebihannya kondom karet di masa itu bisa dipakai berulang kali.

Kondom karet awal hanya dibuat dengan cara mencetak karet mentah di mesin cetakan berbentuk penis lalu mencelupkan karet cetakan itu ke bahan kimia tertentu untuk membersihkannya.

Karena kondom ini hanya menutupi kepala penis, maka kondom ini masih memiliki kemungkinan lepas saat digunakan.

Untuk mencegah hal itu terjadi maka pabrik kemudian membuat kondom sesuai bentuk penis secara utuh.

Pada akhir abad ke-19 teknologi pembuatan kondom membaik dan kondom yang mulus dengan dilengkapi tonjolan kecil untuk menampung sperma di ujungnya mulai diproduksi.

Pada 1912,  cara baru pemnbuatan kondom diterapkan di Jerman, yaitu dengan mencelupkan cetakan dari kaca ke dalam karet yang dicairkan dengan menggunakan bensin.

Setelah selesai, hasil cetakan itu kemudian akan dihaluskan dengan digosok atau dipangkas.

Baca: Pakai Kantong Plastik Gantikan Kondom, Pasangan Ini Dirawat

Pada 1930-an ditemukan lateks yang juga mengubah teknologi pembuatan kondom.

Dengan bahan lateks, kondom menjadi lebih tipis, lebih kuat, dan lebih tahan lama. Kondom karet hanya bisa bertahan selama tiga bulan, sementara kondom lateks tetap layak digunakan hingga lima tahun.

Perang Dunia II ikut mengembangkan teknologi pembuatan kondom dengan diperkenalkannya kondom berbahan plastik.

Pada 1949, untuk pertama kali Jepang memproduksi kondom berwarna, sedangkan kondom berpelumas minyak muncul pada 1950-an.

Namun, yang misteri paling besar dari sejarah kemunculannya adalah kata kondom itu sendiri.

Kata kondom pertama kali muncul dalam sebuah puisi karya Lord Belhaven pada 1706. Kata kondom kembali muncul dalam buku karya Daniel Turner pada 1717.

Kemungkinan kata kondom berasal dari bahasa Latin condon (bisa diterima), condamina (house), dan cumdum (sarung atau kandang).

Spekulasi lain menyebut kata kondom berakar dari bahasa Italia guanto (sarung tangan) atau berasal dari desa bernama Condom di Perancis, tetapi tak ada bukti kuat desa ini pernah ada.

Menyusul penelitian dari Komunitas Dialek Amerika, saat ini secara umum diyakini asal usul kata kondom tak diketahui.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.