Kompas.com - 29/05/2017, 19:00 WIB
EditorErvan Hardoko

Pada 1924, Inggris menggelar ekspedisi ketiga untuk menaklukkan atap dunia ini dan pendaki Edward Norton berhasil mencapai ketinggian 8573,4 atau hanya sekitar 274 meter dari puncak jika dihitung vertikal.

Empat hari sesudahnya, Mallory dan Andrew Irvine menggelar percobaan untuk menaklukkan Everest dan sejak saat itu keduanya tak pernah ditemukan lagi.

Pada 1999, jasad membeku George Mallory ditemukan di Everest. Beberapa tulangnya diketahui patah sehingga diduga dia tewas karena jatuh.

Namun, misteri masih menyelimuti nasib Irvine dan belum diketahui apakah dia sempat mencapai puncak Everest atau gagal seperti rekannya.

Sejumlah upaya mencapai puncak Everest juga dilakukan dari rute di sisi timur laut Tibet tapi semuanya berakhir dengan kegagalan.

Percobaan penaklukkan Everest kemudian terhenti selama Perang Dunia II dan gunung itu sementara tertutup untuk orang asing.

Pada 1949, Nepal kembali membuka pintu untuk pendaki asing lalu pada 1950 dan 1951 ekspedisi Inggris berusaha menaklukkan gunung itu lewat rute sebelah tenggara.

Baca: Perempuan India Capai Puncak Everest Dua Kali dalam 5 Hari

Kemudian pada 1952 sebuah ekspedisi Swiss berhasil melalui Khumbu Icefall yang berbahaya dalam sebuah upaya yang benar-benar nyaris mencapai puncak.

Dua pendaki, Raymond Lambert dan Tenzing Norgay sukses mencapai ketinggian 8.598 meter atau hanya beberapa meter saja dari puncak selatan.

Sayangnya, mereka berdua kehabisan perbekalan sehingga terpaksa tak melanjutkan pendakian hingga ke puncak.

Tertampar oleh ekspedisi Swiss yang nyaris mencapai puncak Everest, Inggris kemudian menggelar ekspedisi besar-besaran pada 1953 yang dipimpin Kolonel John Hunt.

Selain menyertakan para pendaki gunung terbaik Inggris, ekspedisi ini juga membawa serta Tenzing Norgay, yang di tahun sebelumnya nyaris sukses bersama ekspedisi Swiss.

Para pendaki terbaik dari seluruh persemakmuran Inggris dikerahkan termasuk para pendaki Selandia Baru George Lowe dan Edmund Hillary, yang juga adalah peternak lebah saat tak mendaki gunung.

Para pendaki dilengkapi sepatu dan pakaian khusus, peralatan komunikasi portabel, dan sistem peasokan oksigen.

Dengan membangun serangkaian perkemahan, ekspedisi ini memulai perjalanannya menuju puncak Everest pada April dan Mei 1953.

Halaman:
Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.