Kompas.com - 21/05/2017, 20:25 WIB
EditorErvan Hardoko

ZURICH, KOMPAS.com - Jembatan Gedung Perlemen. Sesuai namanya, jembatan yang membelah Sungai Limmat ini, berjarak hanya selemparan batu dari Rathhaus, gedung parlemen kota Zurich.  

Sisi selatan jembatan menghubungkan kota baru, sedangkan bagian utara menyambung ke Kota Tua dan juga Bahnhofstrasse, ruas jalan tempat pusat perbelajaan mewah berlokasi.   

Dari jembatan ini, hanya butuh dua menit jalan kaki, terdapat pelataran Gereja Grossmuenster, landmark kota Zurich, yang berdampingan dengan gereja terkenal lainnya, Fraumuenster.

Tidak mengherankan, jika Rathausbruecke, cukup ramai dengan lalu lalang manusia. Baik itu warga Zurich atau para turis yang ingin menikmati keindahan kota terbesar dan termahal di Swiss ini.

Baca: WNI di Swiss Gelar Aksi Lilin dan Doa untuk Keutuhan NKRI

Pada Sabtu (20/5/2017) petang, jembatan beton ini menjadi lebih ramai dari pada hari biasa. Sekitar 300-an pendukung Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, yang sebagian besar berpakaian merah putih, menggelar demonstrasi damai memrotes pemenjaraan Gubernur DKI Jakarta non-aktif itu.

"Ini memang tak lepas dari apa yang terjadi di Jakarta," kata kordinator demonstrasi, Denny Ramsy.

Selain solidaritas terhadap pemenjaraan Ahok, imbuh Denny, pengumpulan 300-an warga Indonesia di Zurich ini sebagai wujud keprihatinan terhadap semakin maraknya intoleransi terhadap nilai-nilai pancasila.

Aksi damai di Zurich ini merupakan yang ketiga kalinya terjadi di Swiss, setelah aksi serupa di Jenewa dan Bern di pekan sebelumnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, inilah demonstrasi terbesar di Swiss. Sebab, bukan hal mudah mengumpulkan 300-an warga Indonesia di negeri ini.

Aksi serupa di Jenewa, diklaim penyelenggara diikuti 200-an orang sementara di Bern, malah tak sampai 100-an orang.


"Semua orang di Swiss sibuk, tapi syukurlah kami bisa mencapai sejumlah ini,“ kata Denny.

Baca: Dibantu Wali Kota Amsterdam, Warga RI Gelar "Aksi Ahok" di Museumplein

Padahal, masih kata Denny, semua panitia tak menyediakan apapun misalnya nasi bungkus atau uang transport.

"Kalau lapar ya cari makan sendiri, kalau mau sampai di Zurich, ya harus naik  kereta atau bawa mobil sendiri," tuturnya.  

Ratusan warga Indonesia yang ikut aksi ini datang dari berbagai kota misalnya Thurgau, Saint Gallen, Lucerne, Basel, Bern, hingga Jenewa dan Tessin.

Kota-kota ini termasuk kota yang letaknya agak jauh dari Zurich. Warga Indonesia di Jenewa, misalnya, memerlukan waktu tiga jam naik kereta api menuju Zurich.

Seperti di Jenewa dan Bern, aksi di Zurich ini juga diisi dengan menyanyikan lagu-lagu nasional, membaca doa lintas agama, dan penyulutan lilin.

Ni Nyoman Hartini, warga Indonesia yang menetap di Kloten, pinggiran Zurich, terlihat terisak-isak ketika menyanyikan lagu kebangsaan, Indonesia Raya.

Terharu, sedih, campur aduk,“ kata Hartini.

Demonstrasi yang berlangsung satu jam itu berakhir pukul 22.30 waktu setempat, ketika Zurich  mulai menjadi gelap.

Usai berunjuk rasa, beberapa peserta menggosok bekas lilin yang menempel di lantai jembatan.

"Syaratnya memang begitu, harus dibersihkan seperti sedia kala. Kalau tidak (dibersihkan), Pemkot Zurich akan membersihkannya," ujar Denny.

Namun biaya pembersihan akan ditagihkan ke panitia aksi. Sementara, biaya pembersihan cukup mahal yaitu 200-400 franc Swiss (CHF) atau setara Rp 2,3 juta hingga Rp 4,4 juta.

Baca: Ribuan Warga Indonesia di Australia Gelar Aksi Mendukung Ahok

Selain harus membersihkan lokasi, kata Denny, mereka juga harus membayar biaya unjuk rasa yang berlangsung satu jam itu sebesar 190 CHF atau sekitar Rp 2,1 juta.

"Kami juga dilarang minta sumbangan di jalanan, dan mengucapkan hate speech," katanya.

Biaya sejumlah itu, kata Denny, dikumpulkan dari patungan dengan teman-temannya.

Sementara hate speech yang umum terjadi dalam demonstrasi di Indonesia, tidak terlihat di demonstrasi ini.

Berbagai poster yang dibawa juga lebih menyuarakan dukungan terhadap utuhnya NKRI, toleransi antar-manusia, dan keprihatinan terhadap nasib Ahok. Cacian ke kelompok lain, sama sekali tak ada.

"Kita ini demonstrasi damai, juga menyuarakan toleransi kehidupan bersama. Tentunya ya tidak menggunakan hate speech,“ katanya.

"Jika ada pelanggaran sesuai perjanjian dengan kepolisian Zurich, maka Denny Ramsy, kordinator acara ini, harus bertanggung jawab," sambung Denny. (Krisna Diantha)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.