Kompas.com - 09/05/2017, 12:02 WIB
EditorPascal S Bin Saju

PARIS, KOMPAS.com - Kelompok peretas (hacker) Rusia diyakini berusaha mengacaukan Pilpres Perancis dengan menyerang tim kampanye presiden terpilih, Emmanuel Macron.

Kelompok yang sama diduga mendalangi serangan siber pada Pilpres Amerika Serikat yang dimenangkan oleh Donald Trump.

Kelompok peretas yang mendalangi serangan "masif dan terkoordinasi" terhadap tim kampanye presiden terpilih Perancis, Emmanuel Macron, diyakini merupakan grup asal Rusia yang juga meretas akun email petinggi Partai Demokrat menjelang Pemilihan Kepresiden AS.

Puluhan ribu email dan dokumen lainnya milik tim kampanye Macron dipublikasikan pada malam Jumat, sehari sebelum pencoblosan.

Dokumen yang bocor sengaja dicampurkan dengan dokumen palsu untuk "menuai keraguan" pada pemilih, tulis Partai En Marche.

Serangan tersebut merupakan usaha "untuk mendestabilisasi pemilu kepresidenan Perancis," serupa seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

Dokumen yang antara lain berisikan email dan foto itu dimuat di situs WikiLeaks, Jumat tengah malam.

Namun, otoritas pemilu melarang media memublikasikan dokumen tersebut karena sudah memasuki masa tenang.

Komisi Pemilihan Umum setempat menambahkan kebanyakan isi dokumen merupakan informasi palsu.

En Marche dan perusahaan keamanan siber, Trend Micro, menkonfirmasikan serangan dilakukan oleh beberapa kelompok peretas bernama "Pawn Storm, Advanced Persistent Threat 28 dan Fancy Bear."

Sejumlah perusahaan keamanan IT Eropa dan AS mencurigai kelompok tersebut berafiliasi dengan dinas intelijen Rusia yang juga diyakini menyerang Partai Demokrat pada pemilu silam.

Presiden Franocis Hollande berjanji pihaknya akan mengusut kasus terseb.

"Kami mengetahui akan ada ancaman seperti ini selama pemilu karena hal serupa juga terjadi di tempat lain," ujarnya.

Serangan tersebut "tidak akan dibiarkan tanpa reaksi yang seusai," tegas Hollande tanpa merinci langkah yang akan diambil pemerintahannya.

Macron sendiri berulangkali melayangkan kritik kepada Rusia lantaran berupaya mengintervensi jalannya pemilu di Perancis lewat propaganda stasiun televisi Russian Today.

Ironisnya Presiden Vladimir Putin segera menelpon Macron setelah kemenangannya dan menyerukan presiden tepilih untuk "bersama mengakhiri kecurigaan antara kedua negara."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.