Kompas.com - 07/05/2017, 19:00 WIB
EditorErvan Hardoko

Pada 1949, pasukan Vietnam mulai mendapat bantuan persenjataan dari China setelah revolusi di negeri itu berakhir.

Dengan bantuan China, Jenderal Giap bisa membentuk pasukannya yang ala kadarnya, menjadi lima divisi pasukan yang disiplin dan menggunakan persenjataanyang memadai.

Sejak saat itu arah perang berbalik dan kini Perancis yang harus pontang panting menahan gempuran pasukan pimpinan Jenderal Giap.

Pada 9 April 1953, Jenderal Giap mengubah strategi untuk menekan Perancis. Caranya, pasukannya masuk ke dalam wilayah Laos untuk mengepung beberapa pos militer Perancis.

Pada Mei, Jenderal Henri Navarre ditunjuk menjadi panglima tertinggi pasukan Perancis di Indochina.

Sejak awal Navarre mengatakan, Perancis tak mungkin menang perang di Indochina, hal terbaik yang bisa diperoleh Perancis adalah hasil imbang.

Untuk menahan gerak maju pasukan Vietnam, Navarre memilih kota kecil Dien Bien Phu yang berjarak hanya 16 kilometer dari perbatasan dengan Laos dan 272 kilometer sebelah barat Hanoi.

Dien Bien Phu dipilih karena beberapa hal antara lain berlokasi di jalur logistik Vietnminh yang berada di Laos, kota itu memiliki landasan udara, dan kota itu terletak di pegunugan Tai tempat suku Tai yang setia kepada Perancis berada.

Pada 20 November 1953, Perancis menggelar Operasi Castor yaitu untuk menerjunkan Batalion Lintas Udara ke-1 dan ke-2 yang berjumlah 1.800 personel.

Pasukan itu  dengan cepat menyapu sejumlah garnisun Vietminh di sekitar lembah Dien Bien Phu. Perancis kemudian menduduki lembah berbentu hati berukuran panjang 19 kilometer dan lebar 13 kilometer yang dikelilingi bukit berhutan itu.

Pada awalnya, pasukan Perancis dan suku Tai dengan mudah menguasai daerah perbukitan di sekitar Dien Bien Phu.

Jenderal Giap ternyata melihat kelemahan posisi pertahanan yang dipilih Perancis dan memindahkan pasukannya ke Dien Bien Phu.

Pada pertengahan Desember 1953, pasukan Vietminh sukses memusnahkan unit-unit Perancis dan Tai yang berpatroli di perbukitan Dien Bien Phu.

Pertempuran untuk mempertahankan Dien Bien Phu kemudian menjadi pertempuran yang paling berat dan panjang yang dikenang para veterannya sebagai "57 hari di Neraka".

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.