Rakyat Perancis Memilih dalam Ketidakpastian

Kompas.com - 07/05/2017, 13:44 WIB
Kandidat presiden Perancis putaran kedua pada 7 Mei 2017 akan diikuti Marine Le Pen (kiri) dan Emmanuel Macron (kanan).
AFPKandidat presiden Perancis putaran kedua pada 7 Mei 2017 akan diikuti Marine Le Pen (kiri) dan Emmanuel Macron (kanan).
|
EditorPascal S Bin Saju

Gaya kepemimpinan ini juga secara konsisten terlihat dari bagaimana ia membangun gerakan politik En Marche! (Bergerak!).

Macron ingin keluar dari pakem politik tradisional dengan mencoba menghilangkan sekat antara kubu kiri dan kanan demi kemajuan Perancis.

Awalnya, ide ini dianggap tak mungkin, bahkan sampai akhir tahun 2016 gerakannya tak pernah diperhitungkan. Namun, Macron berkeras.

Baca: Inilah Keempat Calon Terkuat Presiden Baru Perancis

Dalam waktu kurang dari setahun, En Marche! memiliki anggota sekitar 250.000 orang.

Macron juga mencalonkan diri sebagai kandidat tanpa dukungan partai politik. Terlepas bahwa Macron "diuntungkan" oleh skandal yang menimpa Fillon, tetapi ia berhasil membuktikan, tak ada yang tak mungkin.

Koalisi

Setelah debat presiden yang berlangsung sangat keras dan panas antara Macron dan Le Pen pada Rabu (3/5/2017) malam, 63 persen pemirsa menyatakan Macron lebih meyakinkan dibandingkan Le Pen.

Pendapat serupa dilontarkan oleh pendukung Melenchon dan Fillon.

Seusai debat, semua jajak pendapat pun mengunggulkan Macron sebagai presiden.

Namun, siapa pun yang terpilih, yang pasti ia akan mengalami kesulitan ketika membentuk pemerintahan karena baik Front Nasional maupun En Marche! diyakini tidak akan memiliki perwakilan yang cukup di parlemen.

Pemilu legislatif akan berlangsung bulan Juni, terlalu pendek bagi En Marche! untuk mempersiapkan calon legislatif yang bertarung memperebutkan 577 kursi majelis rendah.

Baca: Ekstrem Kanan Menguat di Delapan Negara Eropa

Adapun Front Nasional, meski sudah berdiri sejak 1972, perolehan kursi di parlemen masih sangat minim. Mereka hanya meraih dua kursi pada 2012.

Dengan demikian, siapa pun yang terpilih harus melakukan koalisi dengan partai-partai arus utama, yaitu Partai Republik, Partai Sosialis, dan Partai Hijau.

Tak terbayangkan keruwetan yang akan dihadapi oleh pemerintahan mendatang.

Namun, rakyat Perancis sudah menentukan pilihan. Mereka ingin terbebas dari partai mapan.

(Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Mei 2017, di halaman 3 dengan judul "Rakyat Memilih dalam Ketidakpastian")

 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X