Rakyat Perancis Memilih dalam Ketidakpastian

Kompas.com - 07/05/2017, 13:44 WIB
Petugas merapikan surat suara di meja tempat pemungutan suara di Balai Kota Bayonne, Perancis barat daya, Jumat (5/5/2017). AP PHOTO/BOB EDME Petugas merapikan surat suara di meja tempat pemungutan suara di Balai Kota Bayonne, Perancis barat daya, Jumat (5/5/2017).
|
EditorPascal S Bin Saju

Baca: Perancis Gelar Pemilu Presiden

Melenchon sejak awal anti Eropa dan tidak ingin Perancis didikte oleh Brussels, sedangkan Fillon menjanjikan program yang tegas bagi imigran.

Kedua poin penting ini tidak ada dalam program Macron, tetapi bermuara dalam program Le Pen.

Indikasi ini makin jelas terlihat ketika survei menunjukkan dua pertiga pendukung Melenchon menyatakan akan abstain dan total 25-30 persen pemilih di Perancis akan abstain atau datang ke TPS tapi tidak akan mencoblos kertas suara.

Perkembangan politik yang belum pernah terjadi ini menunjukkan bahwa mayoritas pemilih sudah muak dengan pemerintah dan partai-partai arus utama yang dinilai ingkar janji.

Pada umumnya mereka juga tidak sepakat dengan visi xenofobia Le Pen.

Namun, visi Macron yang sangat pro Eropa tidak meyakinkan pemilih yang sangat khawatir akan kondisi perekonomian Perancis.

Baca: Akibat Pemilu Perancis, Wall Street Tutup Saham Sementara

Pengangguran yang saat ini mencapai lebih dari 10 persen, dan kekhawatiran hilangnya kesempatan kerja, merupakan isu paling penting bagi para pemilih.

Terkait ini, Le Pen berhasil mengembuskan isu bahwa hilangnya pekerjaan di Perancis karena direbut oleh kaum imigran sehingga imigran harus diusir. Meski logikanya tidak ada, banyak pemilih yang memercayai ini.

Beda gaya

Perang di antara kedua kandidat dengan visi yang kontras ini tergambar secara nyata dalam "drama Whirlpool", pekan lalu.

Ketika Macron sedang bertemu dengan para pemimpin serikat buruh, Le Pen secara diam-diam mendatangi pabrik mesin cuci di Amiens, yang menurut rencana akan ditutup dan pabriknya dipindahkan ke Polandia tahun depan.

Le Pen yang berada di lokasi selama 10 menit disambut dengan pelukan dan sanjungan para karyawan. Mereka pun melakukan swafoto. Macron yang mendengar kabar ini langsung tersengat.

Baca: Macron atau Le Pen, Keduanya Bisa Bebani Jerman

Pertama, Amiens adalah kota kelahirannya. Kedua, langkah Le Pen sangat efektif karena menunjukkan solidaritas dengan kaum pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan.

Gaya kepemimpinan Le Pen bagaikan seorang ibu yang mencoba membesarkan hati anak-anaknya yang sedang kesusahan.

Tak lama kemudian, Macron langsung mendatangi tempat yang sama. Ia disoraki dan dicaci para pekerja. Namun, Macron bergeming. Dengan sabar ia menjawab semua pertanyaan karyawan yang disiarkan langsung oleh televisi.

Tanya jawab dengan para pekerja berlangsung lebih dari satu jam dan setelah itu mereka saling bersalaman.

Di sini Macron menunjukkan gaya kepemimpinan yang mau mendengarkan, mau mengambil risiko, tetapi juga tak ingin memberikan janji kosong.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X