Kompas.com - 06/05/2017, 17:02 WIB
EditorErvan Hardoko

KOMPAS.com - Salah satu tragedi dalam dunia penerbangan yang masih dikenang hingga saat ini adalah terbakarnya Hindenburg, sebuah balon udara pengangkut penumpang buatan Jerman.

Balon udara itu terbakar saat hendak mendarat di Lakehurst, New Jersey, Amerika Serikat pada 6 Mei 1937 yang menewaskan 36 orang penumpang dan awaknya.

Hindenburg adalah sarana transportasi udara yang berupa balon yang bisa bergerak dengan tenaganya sendiri dan terbang dengan menggunakan gas hidrogen.

Sarana transportasi udara semacam ini pertama kali diperkenalkan pria Perancis, Henri Giffard pada 1852.

Balon udara berisi hidrogen yang membawa mesin uap berkekuatan tiga tenaga kuda berhasil mengudara dengan kecepatan enam mil per jam.

Pada akhir abad ke-19, sebuah balon udara yang lebih kukuh diperkenalkan Count Ferdinand von  Zeppelin yang kemudian mengembangkan inovasi ini di Jerman.

Tak seperti balon buatan Perancis, balon produksi Jerman itu menggunakan kerangka baja ringan yang melindungi bagian dalam balon yang berisi gas.

Namun, sama seperti balon ciptaan Giffard, karya Zeppelin ini juga hanya bisa mengudara jika diisi gas hidrogen yang ringan tetapi mudah terbakar.

Jerman kemudian membuat balon terbang yang sangat besar dan mampu mengangkut lebih banyak penumpang. Salah satu yang terkenal adalah Graf Zeppelin yang terbang keliling dunia pada 1929.

Pada 1930-an, Graf Zeppelin memelopori transportasi udara trans-Atlantik yang kemudian berujung pada pembangunan Hindenburg sebuah balon udara pengangkut penumpang berukuran besar.

Setelah beberapa kali sukses melakukan penerbangan jarak jauh, pada 3 Mei 1937, Hindenburg lepas landas dari Frankfurt, Jerman untuk menandai penerbangan pulang pergi perdana Eropa ke Amerika Serikat.

Terlepas dari embusan angin kencang yang menghambat perjalanan Hindenburg, perjalanan melintasi Samudera Atlantik ini pada dasarnya lancar hingga menjelang pendaratan di Lakehurst, tiga hari kemudian.

Meski hanya terisi separuh 36 dari 70 penumpang serta 61 kru, tetapi seluruh tempat sudah terisi penuh untuk perjalanan pulang ke Jerman.

Sebagian besar penumpang yang memegang tiket menuju Jerman berencana untuk menghadiri upacara pemahkotaan Raja George Vi di London.

Hindenburg terlambat beberapa jam saat dia melintas di atas kota Boston pada 6 Mei 1937 pagi dan pendaratannya di Lakehurst juga diperkirakan akan tertunda karena adanya badai.

Setelah mengetahui cuaca buruk di Lakehusrt, Kapten Max Pruss memilih jalur melewati Pulau Manhattan, yang menyebabkan warga berhamburan ke jalanan untuk melihat sekilas pesawat raksasa itu.

Setelah melintas di atas lokasi pendaratan pada pukul 16.00, Kapten Pruss membawa pesawatnya menyusuri pesisir New Jersey sambil menanti cuaca membaik.

Pada pukul 18.22, setelah mendapat kabar bahwa badai sudah berlalu, Kapten Pruss mengarahkan Hindenburg ke Lakehurst untuk mendarat setelah terlambat setengah hari dari jadwal semula.

Keterlambatan ini membuat persiapan pesawat itu kembali ke Eropa menjadi semakin sedikit. Sehingga publik diminta tak mendekat lokasi atau naik ke atas Hindenburg saat pesawat itu berada di lokasi pendaratan.

Pada pukul 19.00 waktu setempat di ketinggian 200 meter, Hindenburg melakukan manuver akhir ke Pangkalan AL Lakehurst.

Meski istilahnya mendarat, sebenarnya Hindenburg tak benar-benar mendarat atau disebut sebagai flyng moor.

Hindenburg akan menjatuhkan tali dan kabel untuk kemudian ditarik dan diikatkan ke tempat yang sudah disediakan. Proses pendaratan semacam ini membutuhkan waktu yang cukup lama.

Pada pukul 19.00 tiba-tiba api melahap Hindenburg yang langsung menghanguskannya dalam waktu yang sangat cepat.

Penyebab munculnya api ini terus menjadi perdebatan, mulai dari kerusakan mesin hingga sabotase. Namun, pendapat umum yang paling masuk akal adalah api muncul dari percikan dari sistem kelistrikan Hindenburg.

Namun, hingga saat ini masih belum disepakati apalah bahan kain yang melapisi kerangka pesawat itu atau gas hidrogenlah yang menyebabkan Hindenburg begitu cepat terbakar.

Tragedi ini menyebabkan 13 penumpang, 22 kru, dan satu kru darat tewas, sedangkan yang sisanya mengalami luka bakar.

Tragedi ini juga mengguncang kepercayaan publik terhadap sarana transportasi semacam ini sehingga langsung mengakhiri era penerbangan balon gas hidrogen raksasa.  


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.