Kompas.com - 06/05/2017, 17:02 WIB
EditorErvan Hardoko

Hindenburg terlambat beberapa jam saat dia melintas di atas kota Boston pada 6 Mei 1937 pagi dan pendaratannya di Lakehurst juga diperkirakan akan tertunda karena adanya badai.

Setelah mengetahui cuaca buruk di Lakehusrt, Kapten Max Pruss memilih jalur melewati Pulau Manhattan, yang menyebabkan warga berhamburan ke jalanan untuk melihat sekilas pesawat raksasa itu.

Setelah melintas di atas lokasi pendaratan pada pukul 16.00, Kapten Pruss membawa pesawatnya menyusuri pesisir New Jersey sambil menanti cuaca membaik.

Pada pukul 18.22, setelah mendapat kabar bahwa badai sudah berlalu, Kapten Pruss mengarahkan Hindenburg ke Lakehurst untuk mendarat setelah terlambat setengah hari dari jadwal semula.

Keterlambatan ini membuat persiapan pesawat itu kembali ke Eropa menjadi semakin sedikit. Sehingga publik diminta tak mendekat lokasi atau naik ke atas Hindenburg saat pesawat itu berada di lokasi pendaratan.

Pada pukul 19.00 waktu setempat di ketinggian 200 meter, Hindenburg melakukan manuver akhir ke Pangkalan AL Lakehurst.

Meski istilahnya mendarat, sebenarnya Hindenburg tak benar-benar mendarat atau disebut sebagai flyng moor.

Hindenburg akan menjatuhkan tali dan kabel untuk kemudian ditarik dan diikatkan ke tempat yang sudah disediakan. Proses pendaratan semacam ini membutuhkan waktu yang cukup lama.

Pada pukul 19.00 tiba-tiba api melahap Hindenburg yang langsung menghanguskannya dalam waktu yang sangat cepat.

Penyebab munculnya api ini terus menjadi perdebatan, mulai dari kerusakan mesin hingga sabotase. Namun, pendapat umum yang paling masuk akal adalah api muncul dari percikan dari sistem kelistrikan Hindenburg.

Namun, hingga saat ini masih belum disepakati apalah bahan kain yang melapisi kerangka pesawat itu atau gas hidrogenlah yang menyebabkan Hindenburg begitu cepat terbakar.

Tragedi ini menyebabkan 13 penumpang, 22 kru, dan satu kru darat tewas, sedangkan yang sisanya mengalami luka bakar.

Tragedi ini juga mengguncang kepercayaan publik terhadap sarana transportasi semacam ini sehingga langsung mengakhiri era penerbangan balon gas hidrogen raksasa.  


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.