Kompas.com - 02/05/2017, 17:11 WIB
EditorPascal S Bin Saju

PYONGYANG, KOMPAS.com – Pemerintah Korea Utara (Korut) menuding Amerika Serikat (AS) menyeret Semenanjung Korea ke ambang perang nuklir menyusul latihan udara gabungan AS dengan Korea Selatan dan Jepang yang melibatkan pesawat pembom.

Pyongyang pun mengancam akan mempercepat program nuklir Korut, negara yang selama ini telah melakukan serangkaian uji coba nuklir dan rudal balistiknya, demikian Deutsche Welle, Selasa (2/5/2017).

Dua pesawat pembom supersonik B-1B Lancer milik militer AS melakukan manuver latihan di Korsel sebagai peringatan terhadap Korut.

Baca: Korut Tak Hiraukan AS dan China, Tembakkan Lagi Rudal Balistik

Penerbangan kontroversial itu dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump mengaku pihaknya siap bertemu dengan pemimpin Korut, Kim Jong Un.

"Saya merasa terhormat untuk melakukannya," kata Trump kepada Bloomberg.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel, Moon Sang-gyun, mengatakan, latihan gabungan dilakukan untuk menangkal ancaman Korut dan menguji kesiapan militer tiga negara terhadap uji coba nuklir lanjutan.

Militer AS sebelumnya mengklaim kedua pesawat pembom diterbangkan dari Guam untuk bergabung dalam latihan bersama dengan Korsel dan Jepang.

Baca: Soal Tembakan Rudal Korut, Bentuk Provokasi Baru untuk AS

Pyongyang sebaliknya menilai manuver tersebut sebagai "latihan serangan nuklir terhadap target besar" di wilayah teritorialnya.

Pemerintahan negara komunis itu juga menuding Trump dan "pecinta perang di AS menginginkan serangan nuklir preventif" terhadap Korut, tutur seorang pejabat tinggi Pyongyang kepada kantor berita KCNA.

Kim Jong Un dilaporkan telah memerintahkan jajaranya untuk mempercepat program pengembangan senjata nuklir dengan "tempo maksimal" dan melakukan uji coba hulu ledak "kapanpun," selama dibutuhkan.

Baca: Militer AS Berniat Tembak Jatuh Rudal Uji Coba Korut

Ketegangan di Semenanjung Korea meningkat drastis setelah AS pekan lalu mengaktifkan sistem pertahanan rudal di perbatasan Korsel.

Sistem bernama Terminal High Altitude Area Defense System (THAAD) didesain untuk mengidentifikasi dan menghancurkan peluru kendali Korut di udara.

Pembangunannya sempat memicu protes dari China.

Pyongyang bersumpah akan melanjutkan uji coba nuklir kendati menghadapi sikap "agresif dan histeris" dari AS.

Baca: ASEAN Kritik Uji Coba Rudal dan Nuklir Korut

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.