Kompas.com - 25/04/2017, 06:01 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

KOMPAS.com - Sebuah universitas di Korea Utara mengumumkan bahwa warga Amerika Serikat yang ditahan aparat negeri itu, Sabtu lalu, adalah Kim Sang-duk, juga dikenal sebagai Tony Kim.

Warga AS keturunan Korea itu mengajar di Universitas Sains dan Teknologi Pyongyang selama beberapa minggu sebelum ditangkap.

Investigasi terhadap Kim tidak terkait urusan apa pun dengan universitas. Demikian pernyataan tertulis pihak universitas dalam sebuah pernyataan kepada BBC.

Disebutkan, Kim ditangkap saat hendak meninggalkan Pyongyang.

Namun, Pihak berwenang Korea Utara belum menyebutkan alasan penangkapan tersebut.

Baca: AS Intip Lokasi Uji Coba Nuklir Korut, yang Terlihat Orang Main Voli

Menurut kantor berita Korea Selatan Yonhap, Kim, yang umurnya sekitar 50-an tahun, terlibat dalam berbagai program bantuan dan berada di Korea Utara untuk membahas kegiatan bantuan kemanusiaan.

Dia dilaporkan mengajar di Universitas Sains dan Teknologi Yanbian di China, yang berafiliasi dengan universitas di Pyongyang itu.

Sayang, panggilan telepon wartawan BBC ke Yanbian tidak dijawab.

Rektor Universitas di Pyongyang, Park Chan-mo, dikutip oleh kantor berita Reuters mengatakan, Kim terlibat dengan beberapa kegiatan lain di luar universitas seperti membantu panti asuhan.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan, mereka mengetahui adanya penahanan itu, namun tidak berkomentar lebih lanjut karena pertimbangan privasi.

Belakangan, ketegangan meningkat di semenanjung Korea, dengan kapal perang AS yang dikerahkan ke wilayah tersebut.

Sementara, Pyongyang mengancam akan melakukan serangan pendahuluan yang super kuat.

Warga AS ketiga yang ditahan

Media pemerintah China melaporkan bahwa pada hari Senin (24/4/2017), Presiden Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump berbicara lagi di telepon lagi.

Pihak AS belum mengkonfirmasi laporan itu.

AS di masa lalu menuduh Korea Utara menahan warga negara mereka sebagai sandera.

Kim adalah satu dari tiga warga AS yang saat ini ditahan oleh Korea Utara.

Pada bulan April tahun lalu, Kim Dong-chul, seorang warga negara AS berusia 62 tahun kelahiran Korea Selatan, dihukum 10 tahun kerja paksa dengan dakwaan mata-mata.

Mahasiswa AS Otto Warmbier, 21, ditangkap Januari tahun lalu karena berusaha mencuri tanda propaganda dari sebuah hotel saat berkunjung ke Korea Utara.

Bulan Maret 2016, dia dihukum kerja paksa selama 15 tahun untuk kejahatan terhadap negara.

Baca: Jepang dan AS Sepakat Bekerja Sama Terkait Korut

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.