Presiden Trump "Tiru" Langkah Australia Soal Visa Pekerja Asing

Kompas.com - 19/04/2017, 16:48 WIB
Presiden AS, Donald Trump. JIM WATSON / AFP Presiden AS, Donald Trump.
EditorGlori K. Wadrianto

KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump, telah memerintahkan adanya peninjauan terhadap program visa AS yang memungkinkan para pekerja asing berketerampilan tinggi masuk ke negara itu.

Langkah ini serupa dengan kebijakan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull yang menghapuskan visa kerja 457.

Dengan dalih melaksanakan janji kampanye untuk memprioritaskan warga AS yang dikenal dengan jargon "America First",  Trump menandatangani sebuah instruksi presiden untuk program visa H-1B.

Visa H1-B di AS mirip dengan visa kerja 457 Australia yang baru saja dicabut oleh PM Turnbull dan diganti dengan dua visa pekerja terampil yang baru.

Baca: Australia untuk Australia, PM Turnbull Cabut Visa Kerja Warga Asing

Pengumuman Trump ini dianggap tak jelas dalam berbagai hal. Namun, dalam sebuah konferensi pers dan keterangan yang diterbitkan pihak Gedung Putih disebutkan beberapa tujuan dasar dari kebijakan ini.

Salah satu tujuannya, menurut  tim ahli Trump, adalah untuk memodifikasi atau mengganti sistem undian yang berlaku saat ini pada visa H-1B.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seperti diberitakan laman Australia Plus ABC, Rabu (19/4/2017), sistem yang berlaku nanti adalah berdasar kelayakan, yang akan membatasi visa bagi para pekerja terampil.

Trump mengumumkan sendiri inpres ini dan menyampaikan pernyataan saat melakukan kunjungan ke markas Snap-On Inc, perusahaan pembuat alat di negara bagian Wisconsin, AS.

Trump juga memerintahkan adanya peninjauan terhadap aturan pengadaan jasa pemerintah yang mendukung perusahaan-perusahaan AS untuk melihat apakah sebuah kebijakan benar-benar menguntungkan, terutama bagi industri baja AS.

"Dengan langkah ini, kami mengirimkan sinyal kuat kepada dunia: kami akan membela pekerja kami, melindungi pekerjaan kami dan pada akhirnya memprioritaskan Amerika," kata Trump.

Pidato Trump itu senada dengan pengumuman yang disampaikan PM Turnbull pada Selasa (18/04/2017).

"Program migrasi seharusnya hanya beroperasi selaras dengan kepentingan nasional kita ... ini tentang lapangan pekerjaan bagi warga Australia," kata Turnbull.

Kecenderungan Trump untuk terbitkan inpres

Mendekati 100-hari jabatan Presiden yang dipegangnya, Trump dianggap masih belum memiliki pencapaian legislatif yang besar.

Dengan upaya merombak program perlindungan kesehatan yang diluncurkan Presiden Barack Obama dan menghentikan aturan pajak di Kongres, Trump hanya mengandalkan inpres untuk mengubah kebijakan.

Belum jelas apakah inpres terbaru itu akan segera membuahkan hasil.

Golongan visa H-1B meliputi batasan waktu yang tak pasti, sementara pada bagian pengadaan jasa pemerintah, batasan waktu begitu jelas.

"Kami berharap agar maksud instruksi Presiden Trump pada program visa H-1B adalah untuk 'memperbaikinya, bukan mengakhirinya," kata Robert Atkinson, Presiden Yayasan Teknologi Informasi dan Inovasi.

Yayasan Teknologi Informasi dan Inovasi adalah sebuah kelompok industri teknologi utama.

Memberlakukan sistem visa H-1B yang lebih didasarkan pada kelayakan bisa menarik lebih banyak orang dengan pengetahuan dan kemampuan teknologi canggih, sebut Atkinson.

Kendati demikian, dia mengatakan, beberapa ide bisa membuat sistem itu tak efektif.

Misalnya pemasangan iklan lowongan pekerjaan dalam waktu yang lama untuk membuktikan tak tersedianya pekerja asal AS.

Kritik terhadap program ini menyebut, sebagian besar visa H-1B diberikan untuk lapangan pekerjaan yang bergaji rendah di perusahaan ‘outsourcing’, kebanyakan berbasis di India.

Mereka mengatakan, kondisi itu mengambil lapangan pekerjaan warga AS dan menurunkan upah.

Warga negara India adalah kelompok terbesar yang menerima visa H-1B per tahun-nya

Perubahan tersebut bisa memengaruhi sejumlah perusahaan besar AS.

Sebutlah Tata Consultancy Services Ltd, Cognizant Tech Solutions Corp dan Infosys Ltd, yang menghubungkan Silicon Valley dengan ribuan insinyur serta programmer asing.

Namun, belum ada pihak yang bersedia memberikan komentar terkait hal ini.

"Kini, penyalahgunaan luas dalam sistem imigrasi kami memungkinkan pekerja AS dari semua latar belakang digantikan oleh pekerja yang didatangkan dari negara lain," kata Trump.

Visa itu dimaksudkan untuk warga negara asing dengan pekerjaan yang umumnya memerlukan pengetahuan khusus - seperti sains, teknik atau pemrograman komputer.

Pemerintah AS menggunakan sistem undian untuk memberikan 65.000 visa ini setiap tahun dan mendistribusikan 20.000 visa lainnya secara acak kepada lulusan universitas.

Kritikus mengatakan, sistem undian menguntungkan perusahaan ‘outsourcing’ yang membanjiri sistem dengan aplikasi massal, untuk visa bagi pekerja teknologi informasi dengan gaji lebih rendah.

Baca: Dinilai Tak Ada Timbal Balik, Kebijakan Bebas Visa Dievaluasi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.