Serangan Senjata Kimia di Suriah, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Kompas.com - 07/04/2017, 06:09 WIB
Para petugas membawa jenazah korban serangan dari reruntuhan gedung yang diserang pada Selasa (4/4/2017). OMAR HAJ KADOUR/AFPPara petugas membawa jenazah korban serangan dari reruntuhan gedung yang diserang pada Selasa (4/4/2017).
EditorGlori K. Wadrianto

KOMPAS.com - Pemerintah Turki mengatakan hasil otopsi dari para korban serangan di Suriah utara, Selasa (4/4/2017) menunjukkan senjata kimia memang digunakan dalam serangan itu.

Setelah serangan udara di Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib, yang dikuasai pemberontak, sebagian korban luka-luka dibawa ke Turki.

Para korban mendapatkan perawatan, tiga di antara mereka kemudian meninggal dunia.

Namun siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas serangan yang diduga menggunakan gas beracun yang menyebabkan puluhan orang meninggal dunia, termasuk anak-anak?

Baca: Serangan Udara dengan Gas Beracun, 35 Warga Sipil Tewas

Apa yang terjadi?

Menurut kelompok pemantau yang berkantor di Inggris Syrian Observatory for Human Rights, 20 anak-anak dan 52 orang dewasa meninggal dunia dalam tersebut. 

Rekaman gambar sesudah peristiwa itu menunjukkan warga sipil, banyak di antara mereka adalah anak-anak, mengalami sesak nafas dan mengeluarkan busa dari mulut.

Baik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun badan aman medis MSF mengatakan sebagian korban mengalami gejala-gejala yang konsisten dengan paparan zat saraf.

Para saksi mata mengatakan klinik-klinik yang merawat korban luka kemudian dijadikan sasaran serangan udara.

Temuan Turki

Berdasarkan pemeriksaan terhadap korban yang dirawat di dalam wilayah Turki, Menteri Kehakiman Bekir Bozdag mengatakan hasil otopsi mengukuhkan, senjata kimia memang digunakan dalam serangan itu.

Bekir Bozdag lebih lanjut mengatakan pasukan militer Suriah di bawah pemerintahan Presiden Bashar al-Assad bertanggung jawab.

Namun Bozdag tidak menyebut nama bahan zat kimia yang digunakan. Dia juga tidak memberikan bukti-bukti yang mungkin membuktikan bahwa versi kejadian yang diberikan oleh pemerintah Suriah dan sekutunya, Rusia, salah.

Versi Suriah dan Rusia

Pemerintah Suriah dan Rusia, menegaskan gas beracun mematikan keluar ketika serangan udara mengenai gudang yang digunakan oleh kelompok pemberontak untuk membuat dan sekaligus menyimpan senjata kimia.

Rusia adalah sekutu yang membantu militer Suriah melawan kelompok-kelompok pemberontak.

"Di lingkungan gudang terdapat tempat-tempat yang memproduksi mesiu kimia," kata Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konoshenkov.

Bagaimana kredibilitas teori Rusia?

Seorang ahli senjata kimia, Hamish de Bretton-Gordon, mengatakan kepada BBC bahwa versi kejadian yang disampaikan oleh Rusia tergolong "khayalan".

Menurut dia, pemikiran bahwa gas saraf seperti sarin dapat menyebar setelah proses pembuatan senjata dibom tidaklah dapat dipertahankan.

Dari lapangan, Hasan Haj Ali, komandan kelompok pemberontak Tentara Pembebasan Idlib mengungkapkan kesaksiannya kepada kantor berita Reuters.

"Semua orang melihat pesawat ketika pesawat itu mengebom dengan gas."

Kendati demikian, pejabat yang memimpin operasi pimpinan PBB untuk menangani senjata kimia di Suriah mengatakan kepada stasiun televisi Channel 4 News di Inggris, rangkaian peristiwa yang dibeberkan oleh Rusia tidak bisa diabaikan.

"Jika gas sarin disimpan di sana (di gudang) dan mesiu konvensional digunakan, ada kemungkinan sebagian dari munisi kimia itu tidak dipakai dan sarin cair kemudian keluar dan dapat mengenai penduduk," kata Jerry Smith.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X