Swiss dan Turki Selidiki Spanduk "Bunuh Erdogan"

Kompas.com - 28/03/2017, 09:26 WIB
Spanduk yang berisi ajakan untuk membunuh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan muncul dalam sebuah unjuk rasa di Bern, Swiss pada Sabtu (25/3/2017). Reuters/Daily SabahSpanduk yang berisi ajakan untuk membunuh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan muncul dalam sebuah unjuk rasa di Bern, Swiss pada Sabtu (25/3/2017).
EditorErvan Hardoko

BERN, KOMPAS.com - Pemerintah Turki dan Swiss melakukan penyelidikan terpisah terkit unjuk rasa yang digelar di Bern, Swiss yag menyerukan pembunuhan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Dalam unjuk rasa di ibu kota Swiss yang digerakkan kelompok warga Kurdi pada akhir pekan lalu itu, sejumlah orang menggelar spanduk provokatif.

Dalam spanduk itu terlihat gambar sepucuk pistol diarahkan kepada Presiden Erdogan dan ditambah kalimat "bunuh Erdogan".

Sehari setelah unjuk rasa itu tepatnnya Minggu (26/3/2017), pemerintah Turki memanggil duta besar Swiss di Ankara untuk memprotes aksi unjuk rasa itu.

Kepada dubes Swiss, pemerintah Turki mengklaim unjuk rasa itu didalangi Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dianggap Ankara sebagai kelompok teroris.

Presiden Erdogan mengkritik Swiss yang mengizinkan unjuk rasa warga Kurdi itu dan memperingatkan bahwa negeri tersebut akan menerima akibatnya.

Sedangkan PM Binali Yildirim menilai, spanduk yang muncul dalam unjuk rasa di Swiss itu tak dapat diterima dan menyebutnya sebagai kejahatan.

Kini, kantor berita Swiss ATS mengabarkan, sebuah investigasi terhadap sejumlah orang sedang digelar oleh pemerintah Bern terkait kemungkinan adanya ajakan untuk melakukan kekerasan.

Sementara kantor berita Anadolu mengabarkan, sebuah investigasi terpisah digelar dengan menuding sejumlah tersangka karena menjadi anggota kelompok teroris dn menghina presiden.

Swiss mengambil langkah berbeda dengan Belanda atau Jerman yang menolak para pejabat Turki yang berkampanye menjelang referendum pada 16 April mendatang.

Swiss mengizinkan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu menggelar kampanye di negeri itu, tetapi acara tersebut akhirnya dibatalkan.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Di Turki, Risma Cerita soal Kelucuan Bonek

Di Turki, Risma Cerita soal Kelucuan Bonek

Internasional
Australia Bersiap Hadapi Hari Terpanas dalam Sejarah

Australia Bersiap Hadapi Hari Terpanas dalam Sejarah

Internasional
Ketahuan Berhubungan Seks dengan Pria Lain, Istri Tewas Ditembak Suaminya

Ketahuan Berhubungan Seks dengan Pria Lain, Istri Tewas Ditembak Suaminya

Internasional
Istri Terlalu Boros, Pria di India Bunuh Diri

Istri Terlalu Boros, Pria di India Bunuh Diri

Internasional
Pria 70 Tahun Tewas Dipukul Batu Bata, Polisi Hong Kong Tahan 5 Remaja

Pria 70 Tahun Tewas Dipukul Batu Bata, Polisi Hong Kong Tahan 5 Remaja

Internasional
Korea Utara Kembali Gelar 'Tes Krusial'

Korea Utara Kembali Gelar "Tes Krusial"

Internasional
Pukul dan Hantamkan Kepala Remaja ke Tanah, Polisi Ini Dipecat

Pukul dan Hantamkan Kepala Remaja ke Tanah, Polisi Ini Dipecat

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

Internasional
Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Internasional
Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Internasional
Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Internasional
Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Internasional
Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Internasional
Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Internasional
Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X