Beras! Beras yang Agung!

Kompas.com - 09/03/2017, 23:30 WIB
Petani Myanmar, U Ko Aye, mulai bekerja setiap hari sejak matahari terbit kemudian makan siang pada pukul 11. Ia hanya meninggalkan ladang ketika matahari terbenam. 
Dok Karim RaslanPetani Myanmar, U Ko Aye, mulai bekerja setiap hari sejak matahari terbit kemudian makan siang pada pukul 11. Ia hanya meninggalkan ladang ketika matahari terbenam.
EditorAmir Sodikin

SEMUA dimulai dari sepiring nasi goreng.

Makanan yang sederhana namun bergizi, disajikan dengan udang, bawang merah dan sayuran yang dipotong kecil-kecil. Semua itu diletakan di atas tumpukan nasi paw san yang wangi, produk lokal Myanmar.

Butiran nasinya melengkung di bagian ujungnya seperti nasi basmati, namun tidak teratur bentuknya. Saya berada di kota Pathein, sekitar 195 kilometer arah barat Yangon dan terletak di tengah-tengah dataran rendah Ayeyarwady yang subur.

Saya ingin melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana keadaan industri beras Myanmar yang sempat mendominasi dunia.

Pada 1950-an (jauh sebelum Jenderal Ne Win merebut kekuasaan pada 1962), Burma adalah eksportir beras terbesar di dunia, dan Rangoon (sekarang dikenal dengan nama Yangon) menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Asia, tempat dimana kargo-kargo beras dikirimkan ke berbagai tujuan di seluruh belahan dunia.

Dok Karim Raslan Tumpukan stok beras. Myanmar sedang berusaha untuk melipatgandakan ekspor beras pada tahun 2020.
Namun, ketika Ne Win mulai menerapkan kebijakan ekonomi antiasing (seperti ideologinya yang dikenal sebagai “Cara Burma Menuju Sosialis”), industri penting ini kalah berkompetisi dengan Thailand dan negara lain.

Memang terdapat alasan-alasan historis mengapa inisiatif tersebut dilakukan. Pada puncak masa penjajahan, industri beras Myanmar – juga industri-industri lainnya – dikuasai oleh orang asing.

Mulai dari proses penggilingan, penyimpanan, transportasi dan pelayaran hampir seluruhnya dikontrol oleh pebisnis Inggris dan/atau India. Mayoritas lahan padi terbaik telah dikuasai oleh para lintah darat Chettiar dari India Selatan.

Situasi ini menumbuhkan sentimen anti asing di antara orang lokal Burma. Saat ini, Myanmar sedang berusaha menyusul ketertinggalannya dari negara-negara ASEAN lain.

Komoditas beras, yang dahulunya menjadi andalan ekspor Myanmar, menjadi sangat penting bagi pertumbuhan dan kemakmuran Myanmar di masa depan, mengingat lebih dari 61,2 persen populasi masih mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian mereka.

Tugas ini sangat sulit. Daerah Ayerarwady dengan tanahnya yang subur memiliki kapasitas produksi padi lebih dari 50% dari keseluruhan kapasitas negara.

Namun, kurangnya investasi dan pengabaian selama berpuluh-puluh tahun telah membuat sektor ini kurang siap menjadi penopang ekonomi Myanmar.

Banyak jalanan di pedesaan, saluran irigasi, pabrik penggilingan padi, serta pusat pelatihan dan riset tidak terjaga dengan baik, jika tidak bisa dibilang hancur.

Oleh karena faktor-faktor ini, meski Myanmar mampu menghasilkan beras dengan jumlah yang lebih besar daripada masa penjajahan dulu, Myanmar memiliki reputasi sebagai penghasil beras berkualitas rendah.

Bertemu U Ko Aye

Negara ini telah gagal memanfaatkan letak geografisnya yang strategis antara China dan India, yang merupakan dua pasar potensial yang sangat besar. Sebaliknya, mayoritas ekspor beras Myanmar dikirimkan ke pasar Afrika Barat (dalam bentuk pecahan beras) dan dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga dunia karena kualitasnya yang rendah.

Dok Karim Raslan U Ko Aye adalah petani berusia 59 tahun yang lahir dan tumbuh di Pathein, Myanmar.
Hal ini membawa saya ke U Ko Aye, petani sukses yang saya temui setelah saya menghabiskan nasi goreng saya, yang tinggal sekitar setengah jam lebih dari pusat kota Pathein.

Keluarga U Ko Aye memiliki lahan seluas 70.010 meter persegi yang dia sudah garap selama lebih dari 50 tahun. Dia menikah dan mempunyai dua anak perempuan.

Lelaki berumur 59 tahun ini telah membeli sebuah pompa air kecil dan mampu menanam berbagai macam tanaman. Dia mampu memanen padi dua kali setahun dan seperti tetangga-tetangganya, menanam sawi dan selada air (hanya butuh satu bulan untuk tumbuh).

Pekerjaannya tidaklah mudah. Petani seperti U Ko Aye selalu bergantung pada cuaca dan tingkat ketinggian air walaupun dataran rendah mempunyai irigasi yang lebih baik. Dia tidak menggunakan bahan kimia.

U Ko Aye memiliki sebuah rumah sederhana yang terbuat dari beton dan mempunyai akses air dan listrik. Hidupnya dapat menjadi tanda atas apa yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang.

Namun, kepercayaan dirinya jatuh ketika dia mengarahkan kedua matanya ke kumpulan bangunan di jarak kejauhan.

Dia menjelaskan, “Anak-anak muda lebih suka bekerja di pabrik ber-AC walaupun gaji yang diterima lebih sedikit dibandingkan dengan apa yang mereka bisa hasilkan dengan bertani. Kami juga khawatir jika mereka mengambil lahan kami untuk membangun lebih banyak pabrik.”

Dia juga menanam padi paw san dan menjelaskan bahwa meski memerlukan perawatan yang lebih, bisnis padi ini jauh lebih menguntungkan. Padi ini mampu memberinya pendapatan sedikitnya 25 persen lebih dari varietas padi lainnya.

 

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X