Kompas.com - 06/03/2017, 06:40 WIB
Pawai perempuan di Istanbul, Turki, diikuti serkitar 12.000 perempuan dan Presiden Recep Tayyip Erdogan memberikan pidato yang mengecam Jerman. Ozan KosePawai perempuan di Istanbul, Turki, diikuti serkitar 12.000 perempuan dan Presiden Recep Tayyip Erdogan memberikan pidato yang mengecam Jerman.
EditorPascal S Bin Saju

ISTANBUL, KOMPAS.com - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyamakan para pejabat Jerman dengan Nazi, dalam pidato di hadapan pendukungnya di Istanbul, Minggu (5/3/2017).

Komentar ini disampaikan Erdogan setelah pihak berwenang Jerman membatalkan upaya untuk menggalang suara pemilih warga Turki di Jerman menjelang referendum di Turki.

"Praktik Anda tidak berbeda dengan praktik Nazi di masa lalu," kata Erdogan di hadapan para perempuan pendukungnya dalam acara pawai perempuan.

Sekitar 1,4 juta warga Turki di Jerman memiliki hak untuk memberikan suara dalam referendum April, yang akan memperluas kekuasaan Erdogan.

Referendum akan mengajukan pertanyaan apakah rakyat mendukung konstitusi yang akan mengalihkan kekuasaan dari parlemen kepada presiden.

Dengan peralihan kekuasaan itu, maka Erdogan, antara lain, akan memiliki wewenang baru dalam hal anggaran, penunjukan menteri dan hakim, dan pembubaran parlemen.

Untuk mendapatkan dukungan, Turki berupaya menggalang jutaan warganya di luar negeri yang memiliki hak pilih, termasuk sekitar 1,4 juta di Jerman.

Namun pihak berwenang di Gaggenau, Cologne, dan Frechen membatalkan izin untuk pawai warga Turki tersebut.

Pihak berwenang di Gaggenau mengatakan, tempat acara yang direncanakan tidak cukup sementara Cologne menjelaskan mendapat informasi yang tidak benar tentang tujuan acara.

Di hadapan para pendukungnya, Minggu (5/3/2017), Erdogan juga mengatakan, "Saya kira sudah lama Jerman (meninggalkan praktik Nazi). Kita salah.”

Dalam perkembangan terpisah Kanselir Austria, Christian Kern, menyerukan larangan menyeluruh di Uni Eropa untuk kampanye politik oleh politisi Turki.

Sebelumnya Austria menegaskan Erdogan tidak boleh berkampanye di negara mereka menyangkut referendum di Turki.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.