Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 21/02/2017, 17:39 WIB
EditorPascal S Bin Saju

BORACAY, KOMPAS.com — Menteri Luar Negeri RI Retno memberikan fokus perhatian pada usaha meningkatkan keamanan laut di kawasan ASEAN.

Upaya peningkatan keamanan laut tersebut merupakan salah satu kesepakatan para kepala negara pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Vientiane, Laos, tahun lalu.

Retno kembali memberi fokus perhatian untuk isu keamanan pada pertemuan ASEAN Ministerial Meeting (AMM) di Pulau Boracay, Filipina, demikian diterangkan Kemenlu RI dalam rilisnya pada Selasa (21/2/2017).

Pertemuan dua hari yang telah dimulai pada Senin (20/2/2017) itu membuka rangkaian pertemuan ASEAN pada tahun 2017 dengan Filipina sebagai tuan rumah, yang mengusung tema "Partnering for Change, Engaging the World".

Menurut Menlu Retno, WNI telah menjadi korban penyanderaan terbanyak di laut Sulu dan perairan Sabah dalam dua tahun terakhir.

Indonesia juga telah mengambil berbagai inisiatif untuk membantu meningkatkan keamanan di laut sekitar ASEAN, seperti partoli yang terkoordinasi.

“Setiap negara memiliki tanggung jawab utama untuk menjaga keamanan wilayah lautnya,” kata Menlu Retno.  

“Untuk itu, Indonesia menyerukan agar negara ASEAN mengambil langkah untuk tingkatkan keamanan laut, khususnya laut Sulu, perairan Sabah, dan sekitarnya,” kata Retno.

Menurut catatan Kompas.com, peristiwa penyanderaan dan penculikan terhadap WNI mendapatkan perhatian publik sepanjang tahun 2016.

Tercatat, tujuh kali anak buah kapal (ABK) asal Indonesia disandera. Pelaku penyanderaan adalah kelompok yang sama, yaitu kelompok bersenjata Abu Sayyaf yang bermarkas di Filipina.

Penyanderaan dengan korban WNI terbanyak dialami 10 ABK kapal tunda (tugboat) Brahma 12 setelah kapal mereka dibajak dan disandera pada Sabtu (26/3/2016) oleh faksi Al Habsyi Mesaya dari kelompok Abu Sayyaf di perairan antara Sabah dan Kepulauan Sulu.

Saat itu, kapal dengan 10 WNI itu sedang menarik kapal tongkang Anand 12 dengan muatan 7.500 ton batubara milik perusahaan tambang dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Bila dinominalkan, batubara tersebut bernilai 300.000 dollar AS atau setara Rp 3,9 miliar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.