Kompas.com - 08/02/2017, 08:21 WIB
Ratusan orang berunjuk rasa di dekat Gedung Putih, Washington DC menentang kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump. MOLLY RILEY / AFP Ratusan orang berunjuk rasa di dekat Gedung Putih, Washington DC menentang kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump.
EditorGlori K. Wadrianto

LOS ANGELES, KOMPAS.com - Tim pengacara dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat menggelar sidang dengar pendapat, di pengadilan federal di California, sebelum persidangan banding.

Sidang yang berlangsung Rabu WIB (8/2/2017) ini terkait dengan ditundanya pelaksanaan perintah eksekutif Presiden Donald Trump terkait isu keimigrasian, berdasar perintah pengadilan empat hari lalu. 

Baca: Kebijakan Anti-imigran Trump Ditunda, Laju Pengungsi Segera Masuk AS

Tiga hakim dari pengadilan banding di San Francisco mulai mendengar argumentasi selama satu jam sejak pukul 06.00 WIB.

Argumentasi itu akan menjadi dasar, apakah kebijakan Trump yang melarang warga dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim akan kembali berlaku atau dicabut.

Demikian pula dengan kebijakan pembekuan laju masuk imigran dan pengungsi ke wilayah AS selama 120 hari ke depan.

Namun, sidang saat ini tidak menyentuh aspek konstitusi dari keputusan Trump, yang menjadi bahan gugatan di pengadilan di dua negara bagian AS, dengan dukungan dari berbagai kelompok advokasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca: Pilah Kebijakan Imigrasi Berdasar Agama, Trump Langgar Konstitusi?

Seperti diberitakan AFP, juru bicara pengadilan mengatakan, keputusan dari sidang ini baru akan muncul pada akhir pekan ini. 

Sebelumnya diberitakan, pada 27 Januari lalu, Trump menandatangani peprintah eksekutif yang menetapkan warga dari Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman tak bisa masuk ke AS untuk masa 90 hari ke depan.

Demikian pula dengan laju pengungsi akan berhenti hingga 120 hari ke depan, kecuali pengungsi Suriah yang ditetapkan tanpa batas waktu. 

Pihak Gedung Putih menegaskan, langkah yang mengundang serangkaian protes dan aksi di AS itu diambil demi keselamatan dan keamanan nasional.

Kebijakan Trump itu disebut sebagai bagian dari pemeriksaan ketat untuk mengenali setiap orang yang akan masuk ke wilayah AS. 



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.