Kompas.com - 07/02/2017, 21:44 WIB
EditorErvan Hardoko

LIMA, KOMPAS.com - Amadeo Garcia, mungkin merasakan kesepian. Sebab, tak ada lagi orang yang bisa diajak bicara dalam bahasa ibunya, Taushiro.

Nasib sama menimpa Pablo Andrade, penutur terakhir bahasa Resigaro yang masih hidup.

Kedua bahasa itu merupakan dua bahasa asli Peru yang terancam punah, setelah gaya hidup modern menyapu budaya lama suku-suku di pedalaman Amazon.

Bersamaan dengan tersapunya kebudayaan tradisional itu, bahasa-bahasa asli Peru juga ikut punah.

Garcia (67), adalah anggota terakhir suku Taushiro. Suku yang tinggal di wilayah utara Peru ini "dikalahkan" malaria, konflik dengan para penyadap karet, serta tumpahan minyak di sungai tempat mereka tinggal.

Setali tiga uang nasib yang dialami Andrade (65) dia menyaksikan satu persatu kerabatnya meninggal disusul dengan hilangnya bahasa Resigaro.

Belum lama ini, penutur bahasa Resigaro masih tersisa dua orang yaitu Andrade dan saudarinya, Rosa.

Namun, bulan lalu Rosa secara misterius tewas dibunuh, membuat Andrade tak memiliki teman untuk diajak berbicara dalam bahasa Resigaro yang nyaris punah itu.

Satu dekade lalu, masih terdapat 37 orang penutur bahasa Resigaro. Namun, sebagian besar anggota suku Resigaro menikah dengan warga suku Ocaina yang jumlahnya lebih banyak.

"Mereka akhirnya berhenti berbicara bahasa Resigaro," kata pakar antropologi, Alberto Chirif.

Peru, tempat asal kekaisaran Inca, kini berjuang melindungi bahasa-bahasa asli negeri itu yang kalah populer dibanding bahasa Spanyol yang menjadi bahasa utama sejak masa penjajahan.

Banyak cara dilakuan untuk melestarikan bahasa-bahasa asli Peru. Kementerian kebudayaan, misalnya, memproduksi program berita harian dalam bahasa Quecha untuk 3,4 juta penuturnya.

Satu lagi program berita yang sedang digarap adalah dalam bahasa Aymara yang memiliki sekitar 500.000 orang penutur.

"Ada empat bahasa asli yang terancam dan 17 lainnya yang nyaris punah, artinya ini mencakup sekitar separuh dari bahasa asli negeri ini," kata Elena Burga, kepala Departemen Antarbudaya, Bilingual, dan Pendidikan Pedesaan Peru.

Menurut data pemerintah, setidaknya 37 bahasa asli Peru sudah dinyatakan punah.

Burga mengatakan, terlalu dominannya bahasa Spanyol yang digunakan dalam pemerintahan, pendidikan, dan televisi menghancurkan bahasa lokal serta membuat anak-anak semakin tak mau mempelajari bahasa lokal.

Masalah ditambah dengan semakin tersingkirnya suku-suku pedalaman dari tanah mereka akibat pertanian, pengeboran minyak, tambang ilegal, dan pembalakan hutan serta kartel obat terlarang.

"Penyakit juga memusnahkan banyak suku pedalaman sehingga membuat jumlah mereka semakin sedikit," lanjut Burga.

Menurut UNESCO, sebanyak 2.500 bahasa di seluruh dunia terancam punah yang sekaligus mengancam hilangnya harta karun berupa jalinan kata, puisi, lelucon, kata-kata mutiara, dan legenda.

Khusus di Peru, masalahnya jauh lebih rumit karena hutan Amazon serta pegunungan Andes menjadi rumah banyak komunitas suku pedalaman yang rapuh.

Bahasa Taushiro dan Resigaro benar-benar terancam punah karena saat ini hanya tersisa satu penutur saja.

Namun, nasib serupa juga dialami bahasa Muniche yang hanya memiliki tiga penutur, Inapari empat penutur, dan 11 penutur bahasa Cauqui.

Kini pemerintah Peru sedang membuat daftar ekspresi visual dan kamus audio bahasa Taushiro.

Sementara uitu suku Yanesha, di provinsi Oxapampa wilayah tengah Peru, membuka sekolah dua bahasa dengna bantuan ahli bahasa dan antropologi asal AS Richard Chase Smith.

Misi sekolah iutu adalah mengadopsi huruf Yanesha ke teknologi modern, dengan harapan bisa mendapatkan tempat di dunia maya.

"Saya tinggal hampir 15 tahun bersama komunitas ini dan berhasil merekam sejarah suku ini yang disampaikan secara lisan, sebuah ciri identitas mereka," kata Smith.

"Saya merekam 18 narasi yang kini didengarkan juga oleh masyarakat Yanesha di sekolah," tambah Smith.

Kini 40 dari 47 suku asli Peru sudah memiliki sekolah dua bahasa, meski suku yang memiliki warga sangat sedikit.

Pemerintah Peru kini juga tengah berupaya untuk mengembangkan sistem penulisan untuk bahasa yang memiliki lebih banyak penutur dan arsip audio untuk suku yang lebih kecil.

Namun, pakar antropoligi Chirif memperingatkan ada hal lebih besar yang harus dilakukan.

"Kita membutuhkan rencana untuk memperjuangkan hak-hak penduduk asli tas tanah dan identitas mereka," ujar Chirif. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.