Muhammad Sufyan
Dosen

Dosen Digital Public Relations Telkom University, Mahasiswa Doktoral Agama dan Media UIN SGD Bandung. Salah seorang pemenang call for paper Konferensi Nasional Tata Kelola Pemilu Indonesia KPU RI 2019.

Komunikasi Publik Ugal-Ugalan

Kompas.com - 06/02/2017, 17:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorWisnubrata

Apakah polah ugal-ugalan ada dalam ilmu komunikasi, khususnya yang terkait ranah publik? Jika ada, apakah yang membuat hal itu bisa terjadi serta apa solusinya? Benarkan efek komunikasi publik seperti bullet theory --tajam dan berdampak ke audiensnya seketika?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, agar lebih menarik daripada sekedar paparan teori, bisa dikupas dengan menyodorkan sejumlah contoh mutakhir atas perilaku komunikasi publik Presiden Amerika Serikat ke-45, Donald John Trump. 

Pertama, ketika sudah dipastikan menjadi pemenang pemilu, kita menjadi saksi bersama komunikasi publiknya, terutama melalui cuitannya di @realDonaldTrump, yang masih berpijak kaki sendiri sebagai calon Partai Republik. Bukan bapak bangsa.

Alih-alih mempersatukan warga sebagai komunikan yang baru melewati kampanye terpanas dan segresial sepanjang sejarah, Donald Trump menjelma menjadi pemenang pemilu yang malah terus berkampanye menangkis publik yang kritis.

Tak ketinggalan, media massa sebagai pilar negara ke-empat (fourth estate) terus menerus diserang, bahkan sempat ada labelling pernyataan menyakitkan sebagai entitas paling tak jujur terkait hasil polling media yang tiada memenangkan dirinya.

Padahal, dalam praktik media massa profesional dimanapun --apalagi di Amerika Serikat sebagai salah satu barometer global selain Jerman-- pemuatan hasil polling adalah bentuk komunikasi massa dari narasumber yang dicuplik.

Ini kemudian seolah menggenapkan antipati publik pada pola komunikasi publiknya yang sejak menjadi calon presiden dan kampanye, umumnya tendensius, melecehkan perempuan, rasis, dan penuh ujaran kebencian.

Jadi, manakala dia tahu jadi pemenang yang sebetulnya tak telak dan warganya masih terpecah belah, sikap dan pikirannya tak cepat ingin menjadi komunikator pengayom bangsa. Tak bergegas menyatukan kembali pelbagai beda dengan infomasi utuh yang simpatik.   

Ini diperburuk dengan memusuhi fourth estate di negeri tersebut, sehingga proses pemulihan citra kepada publik melalui media massa tak bisa segera dilakukan. Sebagai pembentuk opini, media otomatis makin menjauhkan citranya sebagai ayah bagi semua.

Kedua, belum genap sebulan menjabat, Donald Trump mengkomunikasikan kebijakan pembatasan warga negara asing masuk negara tersebut yang kemudian kita kenal dengan tagar MoslemBan dan memuncaki banyak persepsi dari netizen.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.