Kompas.com - 30/01/2017, 11:00 WIB
EditorPascal S Bin Saju

DUBAI, KOMPAS.com - Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang untuk sementara selama tiga bulan, melarang warga negara Yaman melakukan perjalanan ke AS, dinlai sebagai tindakan sewenang-wenang dan tidak sah.

Penilaian itu disampaikan oleh penguasa kelompok pemberontak Houthi di Sana’a, ibu kota Yaman, yang bersekutu dengan Iran pada Minggu (29/1/2017).

Seorang hakim federal AS telah menangguhkan sebagian perintah Presiden Trump yang melarang masuk para imigran.

Hakim Ann Donnelly juga memerintahkan agar aparat keamanan menghentikan pendeportasian para pengungsi atau penumpang pesawat yang kini tertahan di berbagai bandara AS.

"Kemenangan!!!" demikian cuitan Persatuan Kemerdekaan Sipil Amerika (ACLU) yang menggugat pemerintah usai mendengar keputusan hakim itu.

Yaman, Negara miskin yang dirusak perang di bagian selatan Teluk Arab itu adalah salah satu dari tujuh negara berpenduduk mayorita muslim, yang warganya dilarang memasuki AS selama 90 hari.

Sedangkan pemerintah AS menyatakan sedang mempelajari cara untuk mencegah kelompok garis keras.

Kantor berita SABA, yang dikendalikan Houthi, mengutip pernyataan sumber dari Kementerian Luar Negeri bahwa tindakan tersebut adalah hak kedaulatan pemerintah AS.

Namun, sumber itu menegaskan bahwa setiap upaya memasukkan Yaman atau warganya sebagai kemungkinan biang terorisme dan ekstremisme adalah tindakan sewenang-wenang dan tidak sah.

Yaman terpecah akibat perang saudara selama hampir dua tahun.

Kelompok Houthi, yang bersekutu dengan Iran, secara nyata menguasai wilayah di utara, termasuk ibu kota di Sana'a dan bandar udara internasional terbesar di negara itu, sedangkan pemerintahan yang diakui secara internasional berpangkalan di wilayah selatan dan timur.

Pejabat di pemerintahan pada Sabtu menyatakan kecewa dengan larangan visa tersebut.

Trump menandatangani surat keputusan mengenai larangan bagi warga negara Suriah, Irak, Iran, Libya, Somalia, Sudan dan Yaman memasuki wilayah negaranya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.