Kompas.com - 07/01/2017, 11:45 WIB
|
EditorFarid Assifa

NEW YORK, KOMPAS.com - Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan mengarahkan serangan siber untuk membantu Donald Trump memenangkan pilpres yang digelar 8 November lalu, demikian kesimpulan laporan intelijen AS.

“Kita mendalami bahwa Putin dan pemerintahannya condong mendukung Trump. Tujuan Rusia adalah untuk menjatuhkan kepercayaan warga AS terhadap proses demokrasi, merusak citra Hillary Clinton, mempersulit Hillary untuk memenangkan pilpres dan mengacaukan kepresidenannya jika dia menang. Kita sangat yakin dengan laporan ini,” demikian salah satu poin penting laporan sepanjang 25 halaman yang dirilis, Jumat malam (6/1/2017) waktu setempat.

Badan Intelijen Rusia dilaporkan menggunakan perantara seperti Wikileaks, DCLeaks.com dan Guccifer 2.0 untuk merilis surat elektronik (email) yang diretas dari petinggi Komite Nasional Partai Demokrat (DNC).

Baca juga: Tampil Lagi di Muka Publik, Hillary Kritik Epidemi Berita "Hoax"

Surat-surat elektronik itu kemudian dipakai untuk membuat laporan media yang mempermalukan Hillary hingga memicu mundurnya ketua DNC, Debbie Wasserman Schultz.

Laporan sendiri tidak menyebut bahwa aktivitas yang dilakukan Rusia mempengaruhi langsung hasil pilpres yang secara mengejutkan dimenangkan Trump.

Selain itu, laporan juga menyatakan Rusia tidak menargetkan untuk mengacaukan sistem yang dipakai untuk menghitung suara.

Putin menurut laporan itu mengarahkan intervensi ini sebagai bagian dari balas dendam pribadinya terhadap Hillary yang dinilai sebagai dalang pemicu aksi unjuk rasa terhadap rezimnya di akhir tahun 2011 lalu.

Presiden terpilih Trump dalam pernyataannya setelah menerima laporan itu menyebut bukan hanya Rusia, namun Tiongkok dan negara lain juga telah berupaya meretas sistem di sejumlah lembaga pemerintahan AS.

“Yang pasti tidak ada upaya untuk mempengaruhi hasil pilpres, seperti menjebol mesin penghitung suara”, lanjut Trump.

Baik Kedubes Rusia di AS maupun Hillary belum memberikan pernyataan atas laporan intelijen ini.

Terkait dengan skandal peretasan ini, Presiden Barack Obama telah mengusir 35 diplomat AS untuk kembali ke Rusia. Putin mengatakan, takkan membalas tindakan Obama itu.

Kompas TV Trump Ucapkan Selamat Tahun Baru bagi Musuhnya
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.