Kompas.com - 05/01/2017, 07:23 WIB
EditorPascal S Bin Saju

PARIS, KOMPAS.com -  Kepolisian Perancis, Rabu (4/1/2017), menangkap mantan Perdana Menteri Kosovo, Ramush Haradinaj, seorang komandan gerilya pada masa perang Kosovo tahun 1998-1999.

Menurut Kepolisian Perancis dan Kemenerian Luar Negeri Kosovo, penangkapan Haradinaj itu dilakukan atas permintaan pihak berwenang Serbia, seperti dirilis Reuters, Kamis (5/1/2016).

Haradinaj dicap Serbia sebagai penjahat perang karena perannya memimpin pemberontakan gerilya di bekas provinsinya di selatan, Kosovo, yang merdeka atas dukungan Barat pada tahun 2008.

Haradinaj sempat menjabat sebagai PM Kosovo pada 2004 dan 2005, saat Kosovo berada di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebelum di seret ke Pengadilan PBB di Den Haag, Belanda dan dibebaskan dua kali dalam tuduhan melakukan kejahatan perang.

"Ia ditahan oleh otoritas Perancis berdasarkan surat perintah yang dikeluarkan Serbia pada 2004, yang menurut kami tidak dapat diterima," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Kosovo.

Kementerian Luar Negeri Kosovo mengatakan, pihaknya sedang melakukan berbagai upaya untuk membebaskan Haradinaj.

Kepolisian perbatasan Perancis menahan Haradinaj tak lama setelah mantan ia tiba di bandar udara Basel-Mulhouse di Perancis timur dalam penerbangan dari Pristina, kata para sumber.

Sumber di pengadilan Perancis mengatakan, para penyidik pada Kamis (5/1/2016) akan melihat kemungkinan apakah ada permintaan ekstradisi, khususnya terkait alasan-alasan politik.

Mereka akan melihat apakah mantan PM Kosovo itu sudah dihadirkan di pengadilan PBB di Den Haag atas tuduhan yang sama dengan yang tercantum dalam surat perintah penahanan oleh Serbia.

Haradinaj, pemimpin partai oposisi Aliansi Masa Depan Kosovo (AAK), sedang dalam penerbangan dengan paspor diplomatik ketika ia ditangkap oleh otoritas keamanan Perancis di Basel-Mulhouse.

Pada Juni 2015, Haradinaj pernah ditangkap oleh Kepolisian Slovenia namun dibebaskan dua hari kemudian di tengah tekanan diplomatik.

Kosovo dan Perancis amat menikmati hubungan diplomatik yang erat dan Paris masih menjadi salah satu pendukung utama negara paling muda di Eropa tersebut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.