Kompas.com - 23/12/2016, 20:00 WIB
EditorPascal S Bin Saju

KAIRO, KOMPAS.com - Mesir mendadak menunda pemungutan suara resolusi Perserikatan Bangsa-bangsa yang mengutuk permukiman Israel di Tepi Barat sesudah Donald Trump menyatakan penentangannya dengan lantang.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada BBC bahwa Amerika Serikat mempertimbangkan untuk mengambil suara abstain, yang akan membuat resolusi itu bisa disahkan.

Israel kemudian menghubungi tim transisi Donald Trump untuk memintanya campur tangan, kata seorang pejabat Israel kepada Reuters.

Resolusi yang dirancang Mesir menyerukan Israel untuk menghentikan pembangunan permukiman baru, yang disebut melanggar hukum internasional.

Seharusnya pemungutan suara atas rosulusi di Dewan Keamanan PBB itu berlangsung hari Kamis (22/12/2016), namun Mesir menariknya beberapa jam sebelum sidang akan dimulai.

Amerika Serikat, yang memiliki hak veto di Dewan Keamanan (DK) PBB, secara tradisional melindungi Israel dari resolusi bersifat kutukan, dengan memvetonya.

"Warga Israel sangat menghargai salah satu pilar besar aliansi AS-Israel, kesediaan Amerika Serikat yang bertahun-tahun berdiri di PBB dan memveto resolusi anti-Israel," kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya.

"Saya berharap AS tidak akan meninggalkan kebijakan ini."

Tapi ada spekulasi bahwa pemerintahan Presiden AS Barack Obama mungkin mengubah strategi di bulan-bulan terakhir kepemimpinannya dan memungkinkan resolusi Mesir yang mengutuk Israel untuk disahkan dengan tidak bersuara atau bersikap abstain di DK PBB.

Sebelumnya pada hari Kamis, Trump mendesak DK PBB untuk mementahkan resolusi itu.

Dalam sebuah pernyataan, presiden terpilih AS itu mengatakan 'perdamaian antara Israel dan Palestina hanya akan terjadi melalui negosiasi langsung antara para pihak, dan tidak melalui penetapan persyaratan oleh PBB'.

"Ini menempatkan Israel dalam posisi perundingan yang sangat lemah dan sangat tidak adil untuk semua warga Israel."

Setelah ditundanya pemungutan suara, seorang pejabat Israel mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa mereka telah memperingatkan pemerintahan Obama sebelumnya bahwa mereka akan melakukan banding kepada presiden terpilih Trump jika AS abstain, dan menegaskan bahwa mereka telah langsung meminta Trump untuk campur tangan.

Presiden Mesir Abdel al-Sisi juga sudah berbicara dengan Trump melalui telepon. Dalam sebuah pernyataan, kantor Kepresidenan Mesir mengatakan kedua pemimpin sepakat pemerintah AS yang baru harus diberi kesempatan untuk menangani masalah ini.

Trump akan mengambil alih jabatan sebagai presiden AS pada 20 Januari.

Namun, empat anggota lain dari dewan keamanan memperingatkan bahwa jika Mesir terus menundanya, negara-negara anggota lainnya akan melakukannya.

Selandia Baru, Venezuela, Malaysia, dan Senegal mengatakan mereka berhak untuk melanjutkan permintaan pemungutan suara.

Keempatya adalah anggota tak tetap DK PBB dengan mandat dua tahun, dan tak satu pun yang merupakan anggota tetap dengan hak veto.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.