10 Anggota "Electoral College" Minta Penjelasan soal Peretasan Rusia dalam Pilpres AS

Kompas.com - 13/12/2016, 06:06 WIB
Para pendukung calon presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Hillary Clinton, bersama menonton hasil pemungutan suara di United States Studies Center di Universitas Sydney, Australia, 9 November 2016. AFP PHOTO / SAEED KHANPara pendukung calon presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Hillary Clinton, bersama menonton hasil pemungutan suara di United States Studies Center di Universitas Sydney, Australia, 9 November 2016.
EditorErvan Hardoko

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Sekelompok "elector" yang akan pekan depan akan meratifikasi hasil pemilihan presiden AS menyerukan sebuah sidang terkait tudingan intervensi Rusia dalam kemenangan Donald Trump.

Dengan dukungan penasihat utama Hillary Clinton, John Podesta, kesepuluh elector itu, sembilan di antaranya dari Partai Demokrat, ingin memahami seberapa kuat isu soal Rusia ini.

Sidang yang akan digelar pada Senin (13/11/2016) waktu AS itu akan menentukan hasil akhir pilpres AS saat ke-538 orang anggota Electoral College itu bertemu 19 Desember mendatang.

"Kami meminta adanya sebuah pemaparan semua temuan investigasi, karena masalah ini berpengaruh terkait kelayakan Donald Trump layak menjadi presiden Amerika Serikat," demikian surat para anggota electoral college kepada Direktur Badan Intelijen Nasional, James Clapper.

Permintaan ini muncul setelah akhir pekan lalu media di Amerika Serikat diramaikan kabar bahwa CIA menyimpulkan Rusia melakukan peretasan terhadap ribuan surat elektronik tim pemenangan Hillary Clinton.

Hasil peretasan itu kemudian disetorkan kepada Wikileaks yang memublikasikannya beberapa bulan menjelang pemilihan presiden AS.

Trump menyebut kesimpulan yang diambil CIA itu "konyol", tetapi sejumlah anggota senior Kongres menganggap hal ini sangat serius dan berniat menggelar investigasi.

Podesta, yang surat-surat elektroniknya menjadi bagian dari data yang diretas dan dibocorkan ke publik, mengatakan, surat para elector itu menunjukkan adanya masalah besar dalam hal kemanan nasional AS.

Seusai konstitusi AS, hasil electoral college adalah yang menentukan kemenangan seorang kandidat dalam pemilihan presiden, bukan berdasarkan suara terbanyak.

Setiap negara bagian di AS memiliki jumlah elector yang berbeda terkait dengan jumlah penduduk negara bagian tersebut.

Dalam hasil pemilihan presiden 8 November lalu, meski mendapatkan suara pemilih jauh lebih banyak dibanding Trump, Hillary Clinton dinyatakan kalah.

Dia hanya mendapatkan 232 electoral votes dibanding Trump yang sanggup meraup 306 electoral votes.



Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X