Saat Warga Kuba Beri Penghormatan untuk Castro, Trump Umbar Ancamannya

Kompas.com - 29/11/2016, 08:38 WIB
Wakil Presiden terpilih AS Mike Pence, Presiden terpilih AS Donald Trump dan Mitt Romney, usai pertemuan di Trump International Golf Club, Bedminster Township, New Jersey, Sabtu (19/11/2016).  
Drew Angerer/Getty Images/AFP Wakil Presiden terpilih AS Mike Pence, Presiden terpilih AS Donald Trump dan Mitt Romney, usai pertemuan di Trump International Golf Club, Bedminster Township, New Jersey, Sabtu (19/11/2016).
EditorGlori K. Wadrianto

NEW YORK, KOMPAS.com - Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghentikan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Kuba, saat dia resmi menjabat sebagai Presiden AS pada Januari mendatang.

Trump mengatakan, keputusannya itu tergantung dari keinginan pemerintah Havana untuk meningkatkan kesepakatan menjadi lebih baik bagi rakyat Kuba, dan warga Kuba yang tinggal di AS, serta bagi AS.

Pemulihan hubungan diplomatik kedua negara, hingga dibukanya kembali kedutaan besar masing-masing telah diupayakan oleh Presiden Barack Obama. Obama pun berkunjung ke Havana pada Maret 2016 lalu.

Namun Trump menulis pesan di akun Twitter-nya dan mengumbar ancamannya itu, 

Dia menyampaikan ancaman itu ketika ribuan warga Kuba antre untuk menyampaikan penghormatan terakhir kepada pemimpin revolusi Kuba, Fidel Castro, yang meninggal dunia, Jumat (25/11/2016) lalu.

"Jika Kuba tidak membuat kesepakatan yang lebih bagi rakyat Kuba, warga Kuba/AS, dan AS secara keseluruhan, saya akan menghentikan kesepakatan," tulis Trump.

Pada masa-masa akhir kampanye, calon presiden dari Partai Republik ini berjanji akan mengkaji kebijakan pemerintahan Obama atas Kuba.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca: Tengok, Beda Trump dan Obama Saat Sikapi Wafatnya Fidel Castro

Namun, di masa awal kampanye dia pernah mengaku tidak punya masalah dengan kebijakan atas Kuba.

"50 tahun sudah cukup, kawan-kawan," kata dia dalam debat televisi yang disiarkan CNN kala itu.

Kendati demikian, dalam beberapa jam setelah Fidel Castro dikabarkan meninggal dunia, Trump menyebutnya sebagai seorang diktator yang brutal.

Dalam kunjungan bersejarahnya ke Kuba, Presiden Obama mengatakan perubahan akan terjadi di Kuba dan Presiden Raul Castro -adik Fidel Castro- memahaminya.

Hubungan AS dan Kuba terputus sejak tahun 1961, pada masa Perang Dingin antara negara-negara komunis dan kapitalis.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.