Akankah Kematian Castro Kembali Ubah Hubungan AS-Kuba?

Kompas.com - 28/11/2016, 09:15 WIB
Mahasiswa Kuba di Universitas Havana menyalakan lilin di depan foto mendiang Fidel Castro untuk menghormati ikon revolusi tersebut. AFP PHOTO/ YAMIL LAGEMahasiswa Kuba di Universitas Havana menyalakan lilin di depan foto mendiang Fidel Castro untuk menghormati ikon revolusi tersebut.
EditorGlori K. Wadrianto

WASHINGTON D.C, KOMPAS.com -  Sesuatu yang tidak pernah terlihat dalam lebih 50 tahun, terjadi pada Juli 2015. Bendera Amerika Serikat berkibar di Kedutaan AS di Havana, Kuba, menandai berakhirnya kebekuan di antara kedua negara.

Beberapa bulan kemudian, untuk pertama kali Presiden AS Barack Obama, menginjakkan kaki di Kuba, sejak revolusi membawa Fidel Castro ke puncak kekuasaan tahun 1959.

"Saya datang ke sini untuk mengubur sisa-sisa terakhir perang dingin di benua Amerika. Saya datang ke sini untuk mengulurkan persahabatan kepada rakyat Kuba," kata Obama kala itu.

Presiden Obama mengakui, masih ada perbedaan antara pemerintah Kuba dan AS, terutama mengenai demokrasi dan hak asasi.

Namun, cara terbaik mengatasi perbedaan-perbedaan itu adalah melalui keterlibatan.

Lalu, dimulailah pelonggaran pembatasan terhadap Kuba guna menciptakan lebih banyak peluang ekonomi.

Para pakar percaya, langkah itu penting demi kemajuan negara itu, dan dimulai semasa Fidel Castro masih hidup.

Namun para pakar pun mengakui masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Direktur Institut Kebijakan Publik pada Florida International University, Brian Fonseca, mengatakan, "kematian Fidel tidak akan memicu perubahan besar dalam hal evolusi politik di Kuba."

Kritikus percaya seharusnya ada janji dari Kuba untuk memperbaiki catatan atas persoalan penghormatan terhadap hak asasi, sebelum AS membuat perubahan kebijakan.

Dalam kampanyenya, Presiden terpilih Donald Trump berjanji akan membatalkan perintah eksekutif Obama terkait Kuba, kecuali rezim Castro memenuhi tuntutan AS.

"Tuntutan itu akan mencakup kebebasan beragama dan berpolitik bagi rakyat Kuba, dan pembebasan tahanan politik," ujar dia.

Dalam dua tahun ini, kebijakan AS terhadap Kuba telah berubah.

Dengan terpilihnya presiden baru dan kematian Fidel Castro, tampaknya kebijakan itu akan berubah lagi.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X