Karim Raslan
Pengamat ASEAN

Karim Raslan adalah kolumnis dan pengamat ASEAN. Dia telah menulis berbagai topik sejak 20 tahun silam. Kolomnya  CERITALAH, sudah dibukukan dalam "Ceritalah Malaysia" dan "Ceritalah Indonesia". Kini, kolom barunya CERITALAH ASEAN, akan terbit di Kompas.com setiap Kamis. Sebuah seri perjalanannya di Asia Tenggara mengeksplorasi topik yang lebih dari tema politik, mulai film, hiburan, gayahidup melalui esai khas Ceritalah. Ikuti Twitter dan Instagramnya di @fromKMR

Menakar Nasib Warga Kulit Hitam dalam Pemerintahan Trump

Kompas.com - 27/11/2016, 20:45 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorTri Wahono

KERAMAIAN di depan Museum Nasional Sejarah dan Budaya Amerika-Afrika di Washington DC didominasi oleh warga kulit hitam – berbanding terbalik dengan antrean yang dipenuhi warga kulit putih yang saya saksikan sepekan sebelumnya di Grand Rapids, Michigan untuk menyaksikan kampanye Donald Trump.

Sementara di dalam museum berwarna coklat tembaga yang cantik itu, suasana begitu sunyi, hening, dan penuh respek.

Keluarga-keluarga, pengunjung museum, berkumpul di depan bermacam display dan monitor video untuk melihat berbagai peninggalan dari masa perbudakan, seperti belenggu tangan yang sudah berkarat, gambar-gambar yang mengerikan dari sebuah kapal budak dan sebuah "Perlintasan" dari Afrika Barat.

Namun, apa yang dipamerkan museum tak sepenuhnya suram. Ada pula yang memberikan gambaran tentang bagaimana kaum budak itu bertahan dan memiliki harapan—semangat untuk tetap hidup dengan mulia dan berani di tengah perbudakan dan penindasan yang pada akhirnya mendorong terciptanya Gerakan Hak-Hak Sipil yang dipimpin Martin Luther King, Motown, dan tentu saja Barack Obama sendiri.

Tetapi presiden Amerika Serikat pertama yang berkulit hitam ini akan mengakhiri masa kedua pemerintahannya dan presiden terpilih, Donald Trump tengah bersiap menduduki kursi tertinggi di negeri tersebut. Situasi ini membuat banyak warga keturunan Afrika Amerika merasa bersedih.

Andy Russell, seorang pemuda tampan berusia 30 tahun yang juga pemain cello dan editor film ini tertunduk murung ketika mengatakan, "Saya tadinya yakin 100 persen Hillary Clinton akan memenangkan pemilihan ini. Semua jajak pendapat dan para pakar menunjukkan dia akan menang."

Andy khawatir terhadap masa depan negaranya yang akan dipimpin oleh seorang pria beretorika rasis yang telah mendominasi wacana publik di negaranya selama lebih dari dua tahun terakhir. Semua ini sebagaimana #BlackLivesMatter telah menimbulkan sorotan tajam, seperti terhadap kebrutalan polisi.

Dia pun mengaku sedih bahwa, "Banyak hal yang tidak spektakuler di bawah Presiden Obama, tapi saya harus akui bahwa kami merasa lebih stabil. Obama sesungguhnya bisa menjadi besar, hanya saja Kongres tidak membiarkan hal itu terjadi."

Sebagai seorang anak pendeta Gereja Advent Hari Ketujuh dan perawat, keistimewaan Andy adalah kedisiplinannya yang luar biasa hingga dia mampu terhindar dari alkohol dan rokok. Lahir di Cleveland, Ohio namun sempat tinggal di berbagai daerah di Amerika, Andy memiliki "jaminan" karena dia anak dari anggota masyarakat yang dihormati.

Meski demikian, dia sangat menyadari bagaimana sistem di masyarakatnya telah menjebaknya karena menggolongkan manusia berdasarkan warna kulitnya.

"Saya harus mengenakan setelan jas di tempat bekerja agar terlihat serius. Saya seperti punya kekhasan sebagai orang kulit hitam, dari cara saya berbicara, berpenampilan. Meski memiliki gelar sarjana dan kini sedang belajar di sekolah seni, itu pun masih tetap tidak mudah."

"Ketakutan dalam hubungan antar-ras di bawah pemerintahan Trump itu nyata. Para pendukungnya yang sering merendahkan kami sekarang memiliki kekuatan. Apa yang akan terlihat dari negara ini nantinya? Rasa takut."

KARIM RASLAN The National Museum of African American History and Culture mulai dibuka pada September 2016 dan tiket masuknya sudah habis terjual hingga pertengahan 2017.
Meskipun begitu, jajak pendapat menunjukkan bahwa warga Amerika keturunan Afrika yang tidak memilih Hillary Clinton berjumlah cukup besar. Memang, ada pendapat yang mengatakan bahwa kemenangan Trump yang menyapu bersih seluruh bagian Midwest telah menghilangkan antusiasme warga kulit hitam yang terlihat jelas.

Dengan latar belakang keluarga dan kariernya yang susah payah, Andi tidak terlepas dari sebuah prasangka yang menjalari masyarakat Amerika.

Misalnya, ketika saya memujinya karena kepandaiannya berbicara, dia menjawab, "Saya benci ketika seseorang memberitahu saya kalau saya pandai berbicara. Saya tidak menganggapnya itu sebagai pujian, karena bagi saya, itu artinya kamu melihat saya, lalu kamu menilai saya dan ternyata saya mengejutkan kamu."

Andy teringat satu kejadian yang mengharuskannya berurusan dengan hukum hingga menyisakan luka mendalam.

Dia sempat ditahan polisi karena mengemudikan mobil tanpa surat izin. Dia lalu ditahan selama beberapa hari dalam sel tahanan, dan hanya bisa bebas jika membayar jaminan 200.000 dollar AS—hanya untuk sebuah pelanggaran kecil.

Beruntung, orang tuanya bersedia membayar jaminan tersebut. Tetapi insiden ini, yang hampir membuatnya kehilangan pekerjaan, meninggalkan rasa pahit dan untuk pertama kalinya mengalami tekanan rasial terhadap dirinya.

"Saya tidak melihat hubungan antar-ras akan membaik dalam waktu dekat," tutur Andy, "Sebaliknya ini akan lebih buruk sebelum menjadi lebih baik, dan ada sebuah bias yang 'diresmikan' terhadap kami."

Hasil survei terbaru Pew Research Center memang menunjukkan, hampir separuh dari pemilih di Amerika, yakni 46 persen, menyatakan terpilihnya Trump akan memicu hubungan antar-ras semakin buruk. Sementara, sebanyak 25 persen responden menganggap, hubungan antar-ras akan membaik.

Sebaliknya, ketika Obama terpilih delapan tahun lalu, sebanyak 52 persen pemilih menyatakan hubungan antar-ras akan membaik dan hanya 9 persen yang mengatakan hubungan antar-ras akan memburuk.

Dalam survei serupa yang dilakukan setelah Election Day, hasilnya menunjukkan bahwa sekitar tiga perempat warga kulit hitam atau 74 persen menyakini hubungan antar-ras akan semakin buruk di bawah kepemimpinan Trump.

Pada 2008, pandangan yang muncul sebaliknya, yakni 75 persen pemilih warga kulit hitam mengatakan bahwa terpilihnya Obama akan membawa hubungan antar-ras lebih baik.

Saat ditanya bagaimana perasaannya secara pribadi terhadap Presiden Amerika pertama yang berketurunan Afrika itu, Andy mengatakan, "Obama itu keren, mudah bergaul, dan sebagai mantan profesor hukum konstitusi, dia mampu menjelaskan kebijakannya dengan baik. Yang paling penting, pemerintahan Obama berupaya serius dalam hal transparansi. Dan melihat sebuah keluarga kulit hitam mendiami Gedung Putih yang dibangun oleh para budak, itu membuat kami merasa, kami berhasil."

Membayangkan gaya pendekatan Trump yang cepat, banyak orang bertanya-tanya apakah tahun-tahun pemerintahan Obama yang telah dilewati hanya akan menjadi sebuah "kepalsuan" bagi masyarakat.

*Artikel CERITALAH USA merupakan rangkaian dari CERITALAH ASEAN, yang ditulis dari perjalanan Karim Raslan selama 10 hari ke AS dalam rangka mengamati pemilu di sana.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.