Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 27/11/2016, 18:04 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

NEW YORK, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden terpilih AS Donald Trump menunjukkan sikap yang berbeda dalam menyikapi kabar wafatnya mantan Presiden Kuba, Fidel Castro.

Donald Trump menyebut Fidel Castro sebagai diktator brutal yang telah menyiksa rakyatnya sendiri selama hampir enam dekade.

Baca: Donald Trump Menyebut Fidel Castro Diktator yang Kejam

“Jejak yang ditinggalkan Castro berupa skuad penembak mati, pencurian, penderitaan yang tidak dapat terbayangkan, kemiskinan, dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia,” demikian bunyi pernyataan resmi Trump, Jumat (26/11/2016).

Sementara, Obama yang salah satu pencapaian pemerintahannya adalah menormalisasi hubungan diplomatik dengan Kuba, menyikapi kabar ini dengan lebih "tenang".

"Kita tahu ini adalah momen yang sangat emosional bagi rakyat Kuba, baik di Kuba maupun AS, mengingat peranan seorang Fidel Castro di kehidupan berbangsa dan bernegara Kuba," kata Obama.

Baca: Fidel Castro, Penggemar Baseball yang Jadi Duri dalam Daging bagi AS

"Sejarah akan membuktikan dan mencatat peran Castro untuk Kuba maupun dunia,” ungkap Obama dalam pesan tertulisnya.

Obama juga menyampaikan ucapan belasungkawa. Dia lantas menyebut rakyat Kuba akan selalu didampingi teman bernama Amerika Serikat.

Trump mengakhiri pernyataannya dengan harapan bahwa wafatnya Castro akan mengakhiri masa menyeramkan yang diderita rakyat Kuba.

Dia berharap, warga Kuba dapat segera menikmati kebebasan.

Baca: Fidel Castro Meninggal pada Usia 90 Tahun

Obama menandai normalisasi hubungan diplomatik dua negara itu pada bulan Juli 2015.

Hal itu sekaligus mengakhiri 54 tahun ketegangan dan permusuhan di antara kedua negara.

Obama kemudian menginjakan kaki di Havana, ibu kota negara kepulauan itu bulan Maret 2016.

Baca: Tiba di Kuba, Obama Temui Para Staf Kedubes AS di Havana

Kunjungan itu sekaligus menjadikannya sebagai  Presiden AS pertama yang mengunjungi Kuba dalam 88 tahun.

Lantas Trump adalah pengkritik keras normalisasi tersebut. Dia mengancam akan mengakhiri normalisasi tersebut ketika resmi menjabat sebagai Presiden AS.

Baca: Trump Sebut Castro Tidak Hormat karena Tak Muncul di Bandara, Apa Komentar Gedung Putih?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber NBCNews
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.