Yusa Djuyandi
Dosen dan Peneliti

Dosen Ilmu Politik Universitas Padjadjaran dan Peneliti Pada Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi)

Meneropong Kebijakan Pertahanan Donald Trump dan Dampaknya Bagi Indonesia

Kompas.com - 14/11/2016, 06:32 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorFidel Ali

Karena pidatonya yang cenderung kontroversial itulah, maka mayoritas masyarakat Amerika Serikat tidak memilih Trump, hal ini setidaknya dapat dilihat dari popular vote. Bagi sebagian kalangan Republik sendiri bahwa kemenangan Trump adalah sesuatu yang menurut mereka adalah di luar dugaan, sebab beberapa di antara mereka juga tidak menyukai gagasan Trump.

Sebagaimana kelompok dari pakar keamanan nasional Partai Republik, yang salah satunya adalah Michael Hayden (mantan Direktur CIA), yang pernah melayangkan protes terhadap Trump. Hayden menganggap Trump sebagai kandidat presiden yang intoleran dan sembrono.

Sedangkan bagi sebagian kalangan Demokrat bahwa Trump dilihat sebagai sosok yang rasis dan cenderung proteksionis.

Di antara kalimat Trump yang bisa dianggap kontroversial adalah konteks kalimat “Make America Great Again”, yang mengindikasikan adanya suatu rencangan kebijakan yang menginginkan Amerika kembali besar dan kuat. Dalam konteks inilah maka salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah kebijakannya kelak dalam bidang pertahanan.

Tidak dipungkiri bahwa Trump kemungkinan besar akan mewarisi tradisi Presiden Amerika Serikat terdahulu, George Walker Bush, yang juga sama-sama berasal dari Partai Republik dan memiliki orientasi yang besar atas kebijakan pertahanan. Apa yang kemudian direncanakan oleh Trump dalam kebijakan pertahanan itu adalah salah satunya dengan menambah anggaran militer Amerika Serikat, dan mengizinkan Jepang dan Korea Selatan untuk mempunyai senjata nuklir.

Terkait dengan rencana penambahan anggaran pertahanan, Trump memiliki obsesi yang sama dengan Bush. Jika pada masa pemerintahan Obama kebijakan anggaran pertahanan cenderung berkurang dari presiden sebelumnya, George W. Bush, maka saat ini Trump akan bersiap menambah anggaran pertahanan yang sebelumnya justeru dikurangi oleh Obama.

Sebagaimana dilansir oleh Forbes bahwa Trump siap mendongkrak total anggaran belanja militer antara 500 miliar dollar AS hingga 1 triliun dollar AS. Belum lagi penambahan jumlah pasukan Amerika Serikat di masa Trump diprediksi akan jauh lebih besar dibandingkan dengan masa pemerintahan Obama, yaitu jika Obama hanya menambah jumlah pasukan sebesar 480.000 maka Trump akan menambah sampai 540.000 tentara.

Orientasi Trump dalam bidang militer memang dapat dikatakan besar, sebab dirinya juga mempunyai obsesi untuk terus memodernisasi pertahanan nuklir, yang berarti hal ini juga memunculkan potensi ancaman yang besar bagi stabilitas keamanan dunia.

Dengan kata lain apa yang dikatakan oleh Trump sebagai “Make America Great Again” adalah berarti juga memperkuat kembali kekuatan Amerika dalam bidang pertahanan, yang tujuannya bisa jadi membuat negara-negara lain di dunia harus merasa segan.

Sikap Indonesia

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.