Survei: Hampir Separuh Perempuan Jepang Masih Perawan

Kompas.com - 18/09/2016, 17:26 WIB
Japan Times Pasangan kekasih.

TOKYO, KOMPAS.com - Sudah banyak diketahui jika Jepang memiliki masalah dengan populasi penduduknya. Negeri ini dikenal memiliki populasi orang tua terbanyak dan semakin menrunnya angka kelahiran.

Satu masalah lain adalah jumlah warga Jepang yang berstatus "jomblo" semakin banyak. Padahal, pemerintah Jepang sudah melakukan banyak cara untuk mendorong warganya untuk menikah.

Sebuah survei terbaru yang melibatkan warga Jepang berusia 18-34 tahun yang dimuat harian The Japan Times menunjukkan 70 persen pria dan 60 persen perempuan tak menikah sama sekali tak memiliki hubungan asmara.

Alhasil, menurut survei yang hasilnya dirilis pekan lalu, sebanyak 42 persen pria dan 44,2 persen perempuan Jepang mengaku masih berstatus perawan.

Jajak pendapat yang digelar Institut Nasional untuk Riset Populasi dan Sosial Jepang ini dilakukan setiap lima tahun sekali.

Lembaga ini mencatat sejak survei tentang hubungan asmara dan seks ini digelar pada 1987 jumlah laki-laki dan perempuan Jepang yang tidak menikah sudah sangat tinggi.

Saat itu, sebanyak 48,6 persen laki-laki dan 39,5 persen perempuan yang menjalani survei mengaku tidak menikah atau memiliki hubungan asmara.

Pada 2010, sebanyak 36,2 persen pria dan 38,7 persen wanita berusia 18-34 tahun menyatakan diri mereka masih perawan.

Pada tahun yang sama, jumlah anak dari pasangan suami istri Jepang yang sudah menikah selama 15-19 tahun mencapai rekor terendah sepanjang sejarah.

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan pemerintahan Jepang yang kini dikendalikan PM Shinzo Abe yang  terus berupaya menambah populasi negeri itu.

PM Shinzo Abe menargetkan pada 2025 populasi Jepang akan bertambah antara 1,4 sampai 1,8 persen.

Untuk menggenjot pertambahan populasi itu, pemerintah Jepang menawarkan berbagai insentif mulai dari layanan kesehatan anak yang lebih baik hingga potongan pajak untuk pasangan suami istri.

Sayangnya berbagai iming-iming pemerintah itu hingga kini belum terbukti kemanjurannya, setidaknya untuk mendorong warga Jepang mau mengakhiri masa lajang.

Ironisnya, semua peserta survei mengatakan, mereka ingin menikah pada saatnya. Namun, mereka semua tidak menetapkan waktu untuk mengakhiri masa lajang itu.

"Mereka sebenarnya ingin menikah. Namun, mereka menyingkirkannya karena menemukan kesenjangan antara keinginan ideal dan kenyataan," kata Futoshi Ishii, pemimpin riset ini kepada harian The Japan Times.

"Itulah sebabnya banyak orang yang terlambat menikah atau tetap melajang seumur hidup. Inilah yang mendorong rendahnya angka kelahiran di Jepang," tambah Ishii.

Survei ini dilakukan pada Juni tahun lalu dengan mewawancarai 8.754 orang lajang dan 6,598 pasangan suami istri di seluruh Jepang.


 


EditorErvan Hardoko

Terkini Lainnya


Close Ads X