Kompas.com - 15/08/2016, 22:29 WIB
EditorErvan Hardoko

ANKARA, KOMPAS.com - Pemerintah Turki, Senin (15/8/2016), kembali mengancam untuk mengabaikan janji mengatasi gelombang pengungsi ke Eropa jika negara itu tidak mendapatkan visa Uni Eropa pada Oktober mendatang.

Sesuai kesepakatan dengan Brussels, sebanyak 80 juta warga Turki akan mendapatkan visa bebas bepergian di zona Schengen.

Kesepakatan itu dibuat sebagai bagian dari janji Turki untuk menutup perbatasannya dan menghentikan pengungsi yang akan memasuki wilayah Eropa.

Selain itu, Turki juga sepakat menerima kembali para pengungsi yang sudah mencapai beberapa negara misalnya Yunani.

Namun, dalam wawancara dengan harian Bild, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu  menyatakan kesepakatan tersebut bisa dibatalkan jika kesepakatan visa tak kunjung menjadi kenyataan.

"Saya tak ingin membicarakan soal skenario terburuk, pembicaraan dengan Uni Eropa masih berlanjut tetapi jelas bahwa kami bisa menerima atau membatalkan kesepakatan," ujar Cavusoglu.

"Tidak bisa kami menjalankan semua yang menguntungkan Uni Eropa tetapi Turki tak menerima apapun sebagai timbal balik," tambah Cavusoglu.

Uni Eropa sendiri meminta Turki memenuhi sederet kriteria untuk mendapatkan "visa bebas Uni Eropa.

Salah satu syarat yang dituntut Uni Eropa adalah amandemen undang-undang anti-terorisme, yang menjadi ketegangan antara Ankara dan Barat sejak kegagalan kudeta militer.

Ankara menegaskan tak bisa memperlunak undang-undang anti-terorisme terkait serangkaian ancaman keamanan yang diberikan ISIS di Suriah dan militan Kurdi di wilayah tenggara negeri itu.

Di sisi lain, Komisioner Uni Eropa Guenther Oettinger telah mengatakan, dia tak melihat Uni Eropa akan memberikan visa bebas untuk Turki tahun ini terkait upaya pembersihan yang dilakukan pasca-kudeta.

Uni Eropa dan AS sangat prihatin dengan pembersihan yang dilakukan pemerintahan Recep Tayyip Erdogan terhadap para terduga pelaku kudeta.

Sedikitnya, 50.000 orang telah ditahan termasuk para tentara, polisi, pegawai negeri dan akademisi. Selain itu 131 media massa yang dituduh membela kudeta juga ditutup.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.