Kompas.com - 13/07/2016, 20:14 WIB
EditorErvan Hardoko

BERLIN, KOMPAS.com - Pemerintah Jerman berencana untuk meminta maaf terkait aksi genosida terhadap warga sebuah suku asli Namibia satu abad lalu.

Namun, Kementerian Luar Negeri Jerman menegaskan, permintaan maaf itu tidak akan membuat Jerman harus membayarkan kompensasi kepada Namibia.

"Kami sedang mempersiapkan deklarasi bersama berdasarkan beberapa elemen berikut yaitu kesepakatan soal peristiwa sejarah dan permintaan maaf Jerman atas tindakannya di Namibia," kata juru bicara Kemenlu Jerman, Sawsan Chebli, Rabu (13/7/2016).

Pernyataan bersama pemerintah Namibia dan Jerman ini akan menjadi dasar sebuah resolusi parlemen, tetapi langkah ini tidak akan dijadikan sebagai landasan tuntutan hukum terhadap Jerman.

Jerman menjajah Namibia, yang dulu disebut dengan nama Afrika Barat Daya dari 1884 hingga 1915.

Pembantaian itu dipicu kemarahan warga suku Herero karena para pemukim asal Jerman mencuri tanah dan ternak mereka serta menculik para perempuan suku itu.

Puncaknya, suku Herere mengobarkan perlawanan bersenjata pada Januari 1904 dengan membunuh 123 warga sipil Jerman dalam beberapa hari. Pemberontakan semakin besar setelah suku Nama bergabung untuk melawan Jerman pada 1905.

Pemerintah kolonial membalas revolusi ini dengan kejam dan Jenderal Lothar von Trotha memerintahkan pemusnahan seluruh suku Herero.

Setelah ditangkapi dan ditahan, ribuan warga suku Nama dan Herero tewas karena kelaparan dan cuaca buruk di kamp-kamp tawanan. Tentara Jerman lalu memenggal jasad ratusan warga suku Herero dan Nama dan mengirimkan tengkorak mereka ke Jerman untuk dijadikan bahan penelitian ilmiah.

Saat pemberontakan dimulai pada Januari 1904 terdapat 80.000 orang suku Herero hidup di Namibia. Setelah pemberontakan berakhir, hanya tersisa 15.000 orang warga suku tersebut.

Pada 2011, Jerman mengembalikan puluhan tengkorak warga suku Herero ke pemerintah Namibia. Namun, Jerman bersikukuh tak mau membayar kompensasi dengan alasan sudah memberi bantuan jutaan euro kepada Namibia sejak negeri itu merdeka dari Afrika Selatan pada 1990.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.