Kompas.com - 28/06/2016, 11:55 WIB
 Yazidi bukan pemeluk Islam dan juga bukan etnik Arab dengan keyakinan tradisional sendiri. Reuters Yazidi bukan pemeluk Islam dan juga bukan etnik Arab dengan keyakinan tradisional sendiri.
EditorErvan Hardoko

GENEVA, KOMPAS.com - Nadia Murad, seorang perempuan Yazidi asal Irak yang bersuara lembut, pernah menjadi budak seks ISIS selama tiga bulan.

Dua tahun lalu, Nadia berhasil lolos dari sekapan ISIS setelah mendapatkan kartu identitas palsu. Kini Nadia memiliki pesan bagi para pemimpin dunia yang berusaha menghancurkan ISIS.

Dia menyerukan agar para pemimpin ISIS ditangkap dan diadili karena telah melakukan genosida terhadap etnis minoritas Yazidi.

Di saat pemerintah Irak sedang mengobarkan perang melawan ISIS yang ditandai dengan direbutnya kembali kota Fallujah pada Minggu (26/6/2016), para penyidik PBB mendorong agar para korban ISIS mendapatkan keadilan.

Etnis Yazidi, yang bukan Arab atau Muslim, merupakan sebuah suku yang memeluk kepercayaan kuno dan berjumlah tak lebih dari 500.000 orang yang terkonsentrasi di wilayah Irak yang tak jauh dari perbatasan dengan Suriah.

ISIS menindas etnis Yazidi yang berbahasa Kurdi itu karena mereka tak memeluk kepercayaan yang diturunkan mulai dari Nabi Abraham atau Ibrahim hingga ke agama Islam.

Pada 2014, ISIS menyerbu kota Sinjar, yang mayoritas penduduknya adalah etnis Yazidi. Di Sinjar ISIS membunuh ribuan warga Yazidi dan memaksa ribuan lainnya meninggalkan kota tersebut.

Tak hanya membunuh, ISIS juga menculik para perempuan Yazidi untuk dinikahi atau sekadar dijadikan budak seks.

Komisi Penyidikan PBB (COI) untuk Suriah awal bulan ini mengatakan, telah mengumpulkan berbagai bukti yang menunjukkan ISIS masih melanjutkan genosida terhadap etnis Yazidi.

Dilengkapi kesaksian korban, COI menytakan, ISIS mencoba menghapus etnis Yazidi dengan cara membunuh, menjadikan mereka budak seks, perbudakan, penyiksaan dan perlakuan lain yang tak manusiawi.

Namun, mengajukan kasus kejahatan massal seperti in ke pengadilan PBB kerap mendapat halangan dari Dewan Keamanan PBB atas dasar masalah politik.

Meski demikian para anggota COI berharap kasus Yazidi ini akan diterima Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) yang berbasis di Den Haag karena ISIS tak memiliki dukungan publik.



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X