PM Cameron: Inggris Perlu Nakoda Baru - Kompas.com

PM Cameron: Inggris Perlu Nakoda Baru

Kompas.com - 24/06/2016, 15:26 WIB
CFR/James McBride Perdana Menteri Inggris David Cameron

LONDON, KOMPAS.com - Perdana Menteri Inggris David Cameron, Jumat (24/6/2016), mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya, setelah referendum menghasilkan keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa.

Pilihan yang didasari mayoritas suara dari warga Inggris Raya itu bertentangan dengan apa yang selama ini dikampanyekan Cameroon, agar Inggris tetap berada di dalam pakta ekonomi tersebut.

Dalam pernyataan yang dikutip dari Kantor Berita AFP, Cameron menyatakan akan tetap memegang jabatannya hingga beberapa bulan ke depan.

Dia pun tak memberikan waktu yang pasti kapan dia akan mulai meletakkan jabatannya itu. Cameron hanya menyebut, posisi Perdana Menteri baru harus sudah diisi pada awal Oktober 2016.

"Saya tidak berpikir itu akan tepat bagi saya untuk mencoba untuk menjadi nakoda yang mengarahkan negara kita ke tujuan berikutnya," ungkap Cameron di luar kediamannya di Downing Street, London.

Cameron mengatakan, penggantinya harus mendorong proses formal terkait keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa.

"Saya rasa, waktunya bagi perdana menteri baru untuk mengambil peran," ungkap Cameron lagi. 

"Saya pun akan mencoba meyakinkan warga Inggris yang tinggal di negara-negara Eropa dan warga Eropa yang menetap di Inggris, bahwa tidak ada perubahan mendadak terkait dengan hasil referendum ini," ungkap dia. 

Didampingi sang Istri Samantha, Cameron mengatakan dia telah berjuang untuk mempertahankan agar Inggris tetap berada di dalam Uni Eropa. "Pikiran, hati, dan jiwa saya berjuang untuk itu," kata Cameron. 

Namun, kemudian dia menambahkan, warga Inggris telah memberikan pilihan yang jernih untuk mengambil jalan yang berbeda.

"Saya pikir, negara ini pun membutuhkan penyegaran dalam kepemimpinan terkait dengan keputusan tersebut," ujar Cameron.

Seperti yang telah diberitakan, warga yang memilih keluar dari Uni Eropa mendapat 52 persen suara, sementara yang memilih bertahan ada 48 persen. Margin yang diperoleh antara kedua kelompok mencapai lebih dari satu juta suara.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorGlori K. Wadrianto

Close Ads X