Kompas.com - 22/06/2016, 07:17 WIB
EditorErvan Hardoko

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Sebuah toko senjata online yang berbasis di Amerika Serikat menjual 30.000 pucuk senapan serbu AR-15 dalam sepekan.

Senapan serbu AR-15 adalah jenis senjata yang digunakan dalam tragedi penembakan kelab malam Pulse di Orlando, yang menewaskan 49 orang.

Hunter's Warehouse, nama toko online yang beralamatkan di Bellevue, Pennsylvania, AS mengklaim, sejak tragedi Orlando penjualan AR-15 justru semakin meningkat.

"Secara khusus penjualan AR-15 sudah sangat bagus. Penembakan (di Orlando) bukan pendongkrak angka penjualan," kata Tom Eagle, pemilik Hunter's Warehouse kepada Fox Business.

"Peningkatan penjualan justru muncul ketika pemerintah membicarakan untuk melarang penjualan beberapa jenis senjata," tambah Eagle.

"Saat orang kehilangan hak untuk membeli senjata jenis tertentu maka mereka akan membeli dan menginginkan senjata yang akan dilarang tersebut," tambah dia.

Senapan serbu semacam AR-15 sebenarnya dilarang beredar di AS sesuai dengan larangan yang diterbitkan pemerintah pada 1994.

Namun, ketika undang-undang tersebut kedaluarsa pada 2004 saat Kongres gagal memperbaruinya, senjata itu kemudian kembali masuk pasaran di AS.

"AR-15 dirancang sedemikian rupa, seseorang tak membutuhkan keahlian menembak untuk menggunakannya. AR-15 bahkan bisa diubah menjadi sebuah pistol," ujar John Stokes, seorang pemilik senjata asal Texas.

"Polisi dan warga sipil membeli AR-15 karena senjata itu bisa digunakan untuk berbagai keperluan seperti olah raga atau berburu. Jadi AR-15 seperti Lego untuk orang dewasa," tambah Stokes.

Jika dalam sepekan sebuah toko online sukses menjual 30.000 pucuk senapan serbu AR-15 dalam sepekan, tak bisa diperdebatkan lagi bahwa senjata ini sangat populer di AS.

Begitu banyaknya jenis senjata ini di masyarakat sebab dengan kisaran harga jual antara 300-8.000 dolar AS sepucuk, maka banyak perusahaan senjata memproduksi AR-15, termasuk perusaan ternama semacam Smith & Wesson.

Senapan yang merupakan evolusi dari M-16 ini memang berbeda dengan saudara tuanya itu. Dikembangkan pada 1958, AR-15 memang dirancang sebagai senapan semiotomatis dengan daya rusak tinggi.

Kelebihan senapan ini adalah kecepatannya memuntahkan peluru dan begitu mudahnya si pengguna mengganti magasin peluru.

Di Amerika, senapan ini sudah digunakan dalam setidaknya 14 tragedi penembakan massal selama satu dekade terakhir, yang separuhnya terjadi sejak Juni 2015.

Adam Lanza, pelaku penembakan di SD Sandy Hook pada 12 Desember 2012 menggunakan Bushmaster XM-15, sebuah varian AR-15 untuk membunuh 26 orang yang sebagian besar adalah anak-anak.

Senjata jenis yang sama jug digunakan dalam penembakan di Umpqua Community College di Oregon pada Oktober tahun lalu yang menewaskan sembilan orang.

Penembakn di San Bernardino, California yang menewaskan 14 orang juga menggunakan senjata jenis yang sama. Pelaku penembakan di bioskop Colorado pada 2012 juga menggunakan senjata ini.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.