Kompas.com - 07/06/2016, 16:02 WIB
EditorErvan Hardoko

BERLIN, KOMPAS.com - Berbagai kisah terkait pemimpin Nazi, Adolf Hitler nampaknya belum habis lebih dari 70 tahun setelah kematiannya.

Berbagai kisah baru terus muncul ke permukaan termasuk tentang keluarga dan kerabat sang diktator.

Salah satunya adalah kisah seorang adik laki-laki Hitler bernama Otto yang lahir pada Juni 1892 dan hanya bertahan hidup selama tujuh hari.

Seorang sejarawan Austria mengklaim, Hitler yang lahir di Branau am Inn pada April 1889 seharusnya memiliki tiga orang saudara. Namun, ketiga saudaranya yaitu Gustav, Ida dan Otto meninggal dunia saat masih bayi.

Florian Kotanko, ketua Asosiasi Sejarah Branau, kini mengklaim bahwa sebuah catatan pemerintah menunjukkan Otto yang lahir pada Juni 1892 sempat hidup selama tujuh hari.

Kotanko mengatakan, penemuan ini berarti Hitler, yang saat itu berusia tiga tahun, mengetahui kehamilan ibunya dan sempat melihat adiknya yang cacat.

Para sejarawan lokal juga menemukan bukti bahwa Otto meninggal dunia karena menderita hydrocephalus, terkumpulnya cairan otak sehingga kepala bayi membesar.

Pengungkapan ini bisa memberikan informasi lebih banyak terkait kebijakan Hitler terkait orang-orang dengan kebutuhan khusus.

"Pengaruh yang diberikan kondisi adiknya terhadap perilaku Hitler kepada orang-orang berkebutuhan khusus menjadi sebuah pertanyaan menarik," kata Kotanko kepada harian Oberosterreichischen Nachrichten.

Pada 1939, Hitler menandatangani perintah untuk melakukan eutanasia terhadap para penyandang disabilitas yang dianggap bisa mengancam nyawa mereka.

Paula Hitler, adik perempuan terkecil sang diktator, kepada para penyidik sekutu saat diperiksa pada 1945 mengatakan Gustav dan Ida meninggal dunia akibat difteri.

Paula menambahkan, selanjutnya Otto juga meninggal dunia tanpa menyebut penyebab kematiannya atau menyinggung kebutuhan khususnya.

Paula adalah satu-satunya anak pasangan Alois dan Klara yang selamat dari Perang Dunia II, setelah putra termuda pasangan ini Edmund meninggal dunia akibat penyakit cacar pada 1900.

Antara 1940-1941, sekitar 70.000 penyandang disabilitas di Jerman dan Austria dibunuh, sebagian besar dengan menggunakan gas beracun.

Meski pada Agustus 1941 Hitler memerintahkan untuk menghentikan tindakan itu, namun diperkirakan 275.000 orang berkebutuhan khusus telah dibunuh sebelum rezim Nazi runtuh pada 1945.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.