Kompas.com - 30/05/2016, 08:53 WIB
|
EditorPascal S Bin Saju

CHICAGO, KOMPAS.com – Sebanyak 44 orang menjadi korban serangkaian penembakan, dengan empat orang di antaranya tewas, saat Memorial Day pada akhir pekan.

Superintenden John Escalante, Wakil Kepala Departemen Kepolisian Chicago, AS, mengungkapkan hal itu pada Minggu (29/5/2016), seperti dilaporkan Chicago Tribune.

Untuk mempersiapkan diri guna menghadapi peningkatan kekerasan saat akhir pekan Memorial Day tahun ini, polisi Chicago telah menginstruksikan ribuan petugas untuk bekerja lembur antara Jumat lalu hingga Selasa (31/5/2016).

Memorial Day berlangsung sejak Jumat (27/5/2016) hingga Selasa (31/5/2016) pagi. Antara Sabtu siang dan Minggu pagi, empat tewas.

Khusus pada hari Minggu, dua orang terluka di South Side. Insiden itu terjadi setelah lebih dari dua lusin orang ditembak sejak Jumat, dengan korban luka-luka mencapai 38 orang.

Seorang lelaki yang berusia 27 tahun ditembak di kepala dan dinyatakan meninggal di lokasi di pinggiran selatan Chicago pada Sabtu siang.

Para korban tewas adalah Veronica Lopez (15) dan seorang lagi pria berusia 25 tahun. Korban tewas lainnya adalah pria berusia 23 tahun.

Satu senjata api ditemukan di lokasi, tetapi tidak jelas apakah senjata itu milik korban atau orang yang menembak dia, kata Opsir Michelle Tannehill, wanita juru bicara Kepolisian Chicago.

Memorial Day biasanya menandai awal musim panas di Chicago, ketika kota tersebut membuka kembali semua pantai Danau Michigan.

Mereka melanjutkan pesta kembang api rutin di Dermaga Angkatan Laut dan meluncurkan bermacam acara rekreasi serta pertandingan olahraga.

Namun, akhir pekan Memorial Day yang berlangsung sejak Jumat lalu juga menyaksikan meningkatnya kekerasan, seperti dilaporkan Xinhua.

Selama akhir pekan peringatan pada tahun lalu, 12 orang tewas dan tak kurang dari 44 orang lagi cedera di Chicago.

Untuk mempersiapkan diri guna menghadapi peningkatan kekerasan saat akhir pekan Memorial Day tahun ini, ribuan petugas tak berseragam telah dikerahkan.

Mereka dikerahkan terutama untuk menjaga permukiman yang dilanda kerusuhan, serta taman kota dan pinggir danau, demikian laporan Chicago Tribune pada Sabtu (28/5/2016).

Sebagai kota terbesar ketiga di AS, Chicago memiliki reputasi buruk di seluruh dunia karena kerusuhan yang terjadi, kata Xinhua yang dikutip Antara di Jakarta.

Menurut data Kepolisian Chicago, hingga Jumat (27/5/2016) pagi, angka bunuh diri di Chicago melonjak 52 persen pada 2016 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sedangkan angka penembakan juga naik sampai 50 persen. Lima bulan tahun 2016 telah menyaksikan sedikitnya 233 orang tewas di Chicago.

Akibat seringnya aksi pidana, tingginya pajak, buntunya anggaran negara, dan tingginya tingkat pengangguran, penduduk di daerah Metropolitan Chicago telah mulai berkurang untuk pertama kali sejak 1990.

Data sensus memperlihatkan daerah Chicago kehilangan sebanyak 6.263 warga pada 2015, kehilangan terbesar setiap daerah metropolitan di negeri itu. Penduduk di Chicago berjumlah 9,5 juta jiwa.

Daerah statistik Metropolitan Chicago, yang ditetapkan oleh Biro Sensus AS, mencakup kota Chicago dan pinggirannya serta membujur ke Wisconsin dan Indiana.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.