Kompas.com - 13/05/2016, 11:27 WIB
|
EditorPascal S Bin Saju

Menurut RBSS, ketika kelompok Irak mengirim satu utusannya untuk melakukan negosiasi, ia pun dibunuh oleh militan Belanda.

Kasus perseteruan antarkelompok pejuang ISIS kemudian dilaporkan ke petinggi ISIS Irak, yang semula sebenarnya merupakan sayap Al Qaeda.

Petinggi ISIS Irak memerintahkan anak buahnya untuk menangkap militan Belanda sehingga 70 orang ditangkap. Delapan orang di antaranya dieksekusi karena diduga melakukan "penghasutan".

Menurut RBSS, pembelotan dan pertikaian antar-anggota ISIS meningkat.

Antar-kelompok ISIS saling curiga karena ada kekhawatiran terjadinya penyusupan oleh intelijen asing dan serangan udara tak berawak.

Frustrasi juga meningkat karena ISIS semakin kehilangan wilayah setelah serangan koalisi Amerika Serikat. Beberapa militan asing dilaporkan mengaku mendapat diskriminasi dalam hal pembayaran upah, kondisi hidup, penghargaan, dan perlakuan.

Kelompok militan tertentu juga merasa didiskriminasi karena selalu dikirim ke garis depan yang mematikan, seperti di Deir ez-Zor, berbeda dengan militan ISIS lainnya dari Irak.

Belum lama ini, misalnya, mantan militan ISIS Harry Sarfo telah membuat pengakuan kepada publik di sebuah penjara di Jerman. Ia memperingatkan kaum muda agar jangan mudah terbuai ajaran Islam versi ISIS yang sangat menyesatkan.

Sarfo menyebut ISIS dengan nama Arab, yakni Daesh. Sekarang ia mengaku telah memahami realitas sebenarnya di balik propaganda agama dari organisasi teroris yang berbasis di Raqqa, Suriah, itu.

Dalam sebuah wawancara yang dirilis The Independent, awal Mei, Sarfo melalui kuasa hukumnya menekankan "ISIS tersesat". Ia melarikan diri dari Raqqa dan kembali ke Jerman, tetapi ditangkap.

"Ini bukan jalan menuju firdaus (surga). Ini adalah jalan menuju neraka," katanya tentang ISIS yang dikenalnya sejak ia bergabung menjadi militan kelompok itu pada April 2015.

Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) menyatakan, ISIS telah mengeksekusi sedikitnya 400 anggota mereka sendiri dalam kurang dari dua tahun, termasuk mereka yang mencoba kabur dan kembali ke negara asalnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.