Pejabat Australia Paksa Wanita Hamil Menggugurkan di Papua Niugini - Kompas.com

Pejabat Australia Paksa Wanita Hamil Menggugurkan di Papua Niugini

Kompas.com - 10/05/2016, 10:54 WIB
news.com.au Negeri Pasifik kecil, Nauru, menjadi salah satu tujuan penampungan sementara para pencari suaka ke Australia.

SYDNEY, KOMPAS.com – Seorang wanita hamil yang diperkosa di Nauru, pulau kecil di Pasifik Selatan. yang menjadi pusat detensi Australia untuk pencari suaka, tidak bisa dipaksa menggugurkan kandungannya di Papua Niugini.

Pengguguran kandungan di Papua Niugini tidak aman dan merupakan tindakan melanggar hukum, seperti dilaporkan Reuters, Senin (9/5/2016).

Keputusan itu tercantum dalam surat perintah pengadilan Australia, akhir pekan lalu.

Merujuk kebijakan imigrasi garis keras, pencari suaka yang dicegat di laut saat berusaha mencapai Australia, dikirim ke kamp di Nauru dan Pulau Manus di Papua Niugini.

Pencari suaka itu juga diberitahu bahwa mereka jangan pernah bermimpi untuk tinggal di Australia.

Tindakan keras dan laporan pelecehan anak-anak secara sistemik di kamp tersebut telah menuai kritik luas dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok pegiat hak asasi manusia.

Nauru dan Manus menampung pelarian dari kekerasan di Suriah, Irak, Asia Selatan, Afrika, dan yang dianggap pengungsi ekonomi.

Di antara migran dan pencari suaka itu, ada seorang perempuan Afrika. Ia dikenali dalam dokumen pengadilan dengan nomor identitas S99.

Wanita itu mengaku diperkosa di Nauru dan mencoba melakukan aborsi di Australia.

Hakim Pengadilan Federal Australia  Mordecai Bromberg mengatakan, Menteri Imigrasi Australia Peter Dutton justru memerintahkan, wanita itu harus dikirim ke Papua Niugini untuk melakukan prosedur seperti yang diingini.

Bromberg telah memutuskan Jumat (6/5/2016) lalu bahwa prosedur itu ilegal di Papua Niugini. Negara itu tidak memiliki keahlian medis dan fasilitas untuk mengobati sejumlah kasus psikologis dan fisiologis.

"Aborsi di Papua Niugini tersedia bagi pemohon. Namun, dengan risiko keamanan dan hukum yang akan dihindari pihak terkait pihak di posisi menteri," kata Bromberg dalam penilaiannya setebal 150 halaman.

Bromberg juga memutuskan, wanita yang tengah hamil itu harus tetap di Papua Niugini sampai setidaknya 15 Mei.

Juru bicara untuk Dutton mengatakan, keputusan pengadilan itu ‘dipertimbangkan’ dan berpeluang untuk banding.

Pengacara wanita hamil tadi, George Newhouse, mengatakan, hukum Papua Niugini melarang aborsi. Prosedur itu dikecualikan jika ingin menyelamatkan nyawa seorang ibu.

Australia berseteru dengan Papua Niugini sejak Port Moresby memerintahkan penutupan kamp di Manus akhir bulan lalu.

Kamp itu menampung sekitar 850 orang dan kamp itu disebut ilegal oleh Mahkamah Agung Papua Niugini. Sementara itu dua orang melakukan aksi bakar diri Mei ini sebagai protes atas perlakuan mereka di kamp Nauru.

Seorang pria Iran berusia 23 tahun tewas dan seorang perempuan muda asal Somalia dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit Australia.


EditorPascal S Bin Saju
SumberReuters
Komentar

Terkini Lainnya

Survei Alvara: Elektabilitas Jokowi 46,8 persen, Prabowo 27,2 persen

Survei Alvara: Elektabilitas Jokowi 46,8 persen, Prabowo 27,2 persen

Nasional
Belasan Ribu Surat Suara Pilgub Jateng di Purbalingga Rusak

Belasan Ribu Surat Suara Pilgub Jateng di Purbalingga Rusak

Regional
Kecelakaan Sepeda Motor di Madiun, Tiga Orang Tewas

Kecelakaan Sepeda Motor di Madiun, Tiga Orang Tewas

Regional
Polisi Upayakan Kasus Remaja Curi Koper di Bandara Diselesaikan di Luar Pengadilan

Polisi Upayakan Kasus Remaja Curi Koper di Bandara Diselesaikan di Luar Pengadilan

Megapolitan
Kesaksian Warga soal Ribuan E-KTP yang Tercecer di Bogor

Kesaksian Warga soal Ribuan E-KTP yang Tercecer di Bogor

Regional
Ibu di India Tak Sadar Telah Digigit Ular, Anak Meninggal Usai Menyusu

Ibu di India Tak Sadar Telah Digigit Ular, Anak Meninggal Usai Menyusu

Internasional
Petasan Meledak, Rumah Hancur dan Satu Orang Meninggal Dunia

Petasan Meledak, Rumah Hancur dan Satu Orang Meninggal Dunia

Regional
Tak Peduli Merek, DV Curi Koper Apa Saja yang Ada di Hadapannya

Tak Peduli Merek, DV Curi Koper Apa Saja yang Ada di Hadapannya

Megapolitan
Akibat Galian Resapan Air Tanpa Pembatas, Mobil Terperosok ke Lubang

Akibat Galian Resapan Air Tanpa Pembatas, Mobil Terperosok ke Lubang

Megapolitan
Remaja DV Kerap Lakukan Pencurian Koper di Bandara Sepulang Sekolah

Remaja DV Kerap Lakukan Pencurian Koper di Bandara Sepulang Sekolah

Megapolitan
Anggota Komisi II Minta Kemendgari Jamin Tak Ada Penyalahgunaan E-KTP

Anggota Komisi II Minta Kemendgari Jamin Tak Ada Penyalahgunaan E-KTP

Nasional
Remaja Curi 10 Koper di Bandara Soekarno-Hatta karena Ingin Mengoleksi

Remaja Curi 10 Koper di Bandara Soekarno-Hatta karena Ingin Mengoleksi

Megapolitan
Masuk Lewat 'Exit Gate', Begini Cara Remaja Ini Curi Koper di Bandara

Masuk Lewat "Exit Gate", Begini Cara Remaja Ini Curi Koper di Bandara

Megapolitan
Putin Isyaratkan Ingin Kembali Jabat Posisi Perdana Menteri pada 2024

Putin Isyaratkan Ingin Kembali Jabat Posisi Perdana Menteri pada 2024

Internasional
Enggan Cerita Masalahnya, Pemuda Malah Terjun ke Citarum di Hadapan Teman

Enggan Cerita Masalahnya, Pemuda Malah Terjun ke Citarum di Hadapan Teman

Regional

Close Ads X