Kompas.com - 09/05/2016, 11:00 WIB
Suasana pemilu di Filipina, Senin (9/5/2015). Para pendukung Ridrigo Duterte, salah satu kandidat presiden paling dijagokan.  Reuters/Erik de CastroSuasana pemilu di Filipina, Senin (9/5/2015). Para pendukung Ridrigo Duterte, salah satu kandidat presiden paling dijagokan.
EditorPascal S Bin Saju

MANILA, KOMPAS.com – Pemilu Filipina diwarnai kekerasan mematikan. Tujuh orang tewas ditembak dan seorang lagi ketika sebuah konvoi kendaraan diserang, Senin (9/5/2016) pagi.

Peristiwa itu terjadi di kota Rosario, Provinsi Cavite, selatan Manila, ibu kota Filipina.

Kepala Inspektur Jonathan del Rosario mengatakan,  serangan itu dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata tak dikenal dengan target konvoi sebuh mobil jip dan dua sepeda motor.

Menurut para pejabat terkait dalam pemilu nasional, lokasi serangan di Rosario itu diidentifikasi sebagai daerah rawan karena ketatnya persaingan politik.

Jonathan del Rosario bertugas sebagai juru bicara satuan tugas pengawas keamanan pemilu.  Ia mengatakan, 15 orang tewas dalam insiden yang terkait dengan pemilu sejak awal tahun ini.

Namun, terdapat banyak tindak kekerasan lainnya yang masih diduga terkait dengan pemilu. Terkait insiden terbaru di kota Rosario, polisi masih menyelidiki dan belum diketahui motif penembakan itu. 

Jutaan warga Filipina diharapkan terlibat dalam pemilihan suara pada Senin ini untuk memilih presiden baru mereka untuk menggantikan Presiden Benigno Aquino. Ia tidak bisa mencalonkan diri lagi setelah masa jabatan enam tahunnya berakhir.

Ada enam kandidat presiden yang bersaing yakni Ridrigo Duterte, Grace Poe, Manuel 'Mar' Roxas, Jejomar 'Jojo' Binay, Miriam Santiago, dan Ferdinand 'Bongbong' Marcos.

Pilpres kali ini berlangsung bersamaan dengan pemilihan kepala daerah, yakni 1.634 daerah tingkat dua dan 81 provinsi.

Terkait dengan pemilu ini, keamanan ditingkatkan. Sekitar 100.000 polisi dikerahkan karena kekhawatiran akan kekerasan akibat ketegangan antara pihak-pihak pendukung calon presiden maupun calon kepala daerah.

Perbedaan pandangan politik merupakan faktor utama yang memicu kekerasan menjelang dan sesudah pemungutan suara dilakukan. Politik dinasti yang mengakar menjadi pendulumnya.

 



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X