Pencarian Korban Gempa Jepang Dihantui Bencana Susulan

Kompas.com - 18/04/2016, 07:23 WIB
Longsong akibat gempa Sabtu (16/4/2016) dini hari di Perfektur Kumamoto, Pulau Kyushu, Jepang selatan. AFP/Jiji PressLongsong akibat gempa Sabtu (16/4/2016) dini hari di Perfektur Kumamoto, Pulau Kyushu, Jepang selatan.
EditorPascal S Bin Saju

MINAMI-ASO, KOMPAS.com – Regu penyelamat Jepang yang mencari korban tanah longsor akibat gempa di Pulau Kyushu, bagian selatan negara itu dihantui bencana susulan.

Hal itu karena masih terjadi ratusan  gempa susulan yang bisa menimbulkan bencana baru. Entah tanah longsor baru, kemungkinan bendungan jebol, ataupun bangunan roboh.

Hingga Senin (18/4/2016) pagi gempa susulan skala kecil masih terus terjadi. Sementara tim evakuasi berpacu menggali material lonsor untuk menemukan korban yang terkubur.

Dua gempa besar telah mengguncang Jepang, yang pertama bermagnitudo 6,4 terjadi Kamis (14/4/2016) dan gempa kedua bermagnitudo 7,3 pada Sabtu (16/4) dinihari.  

Jiji Press melaporkan, sejauh ini sudah 42 orang tewas akibat dua gempa tersebut.  

Hingga Minggu malam lebih dari 400 gempa susulan telah mengguncang Kumamoto dan bagian lain di Pulau Kyushu, yang menjadi episentrum dua gempa besar itu.

Menurut media Jepang tersebut puluhan orang masih dicari di bawah reruntuhan rumah dan tanah longsor.

Proses pencarian oleh sekitar 25.000 tentara, polisi, petugas pemadam kebakaran, dan medis masih berlangsung di bawah ancaman hujan deras dan gempa susulan yang memicu tanah longsor.

Meski hujan lebat yang diperkirankan tidak terjadi  Minggu, regu pencari di bawah lereng bukit tetap ketar-ketir.

Petugas terkait gempa memperingatkan tim pencari di lereng bukit untuk tetap waspada sebab gempa susulan bisa memicu tanah longsor  baru.

Mobilisasi alat berat ke pedalam sulit, sehingga petugas hanya mengadalkan sekop tangan.

Yoko Eto, 38 (38), warga Minami-Aso mengatakan, tetangga bersma anjingnya tewas  akibat bak semburan lumpur dari reservoir yang meledak akibat diguncang gempa Sabtu.

Eto bergegas untuk menyelamatkan ayah yang sudah tua.  Rumah dan segala perabotnya terkubur.

Di Mashiki, beberapa rumah-rumah kayu tetap utuh. "Saya tidur di mobil dan tinggal di tenda pada siang hari," kata Seiya Takamori (53) menunjuk tenda plastik tipis.

Lebih dari 110.000 orang telah dievakuasi, Jiji Press melaporkan, mengutip pemerintah prefektur Kumamoto. Sekitar 300 berasal dari daerah dekat bendungan yang dianggap beresiko roboh.

Rekaman udara menunjukkan sebuah jembatan di jalan raya utama tertutup tanah longsor.

Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan upaya penyelamatan akan dibantu oleh militer Amerika Serikat.

"Menteri Pertahanan kami memberitahu saya bahwa militer AS siap membantu dengan angkutan udara. Kami sangat berterima kasih atas tawaran itu," katanya.

AS memiliki hampir 50.000 prajurit di Jepang.

Jiji Press mengutip Menteri Pertahanan Jenderal Nakatani mengatakan, pasukan AS akan aktif pada Senin ini dengan mulai mengangkut bantuan darurat ke daerah bencana.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wanita di China Lempar Anak Kucing karena Tak Dapat 'Refund' dari Toko Hewan

Wanita di China Lempar Anak Kucing karena Tak Dapat "Refund" dari Toko Hewan

Internasional
Bertemu Mahathir, Anwar Ibrahim Kembali Tegaskan akan Jadi PM Malaysia

Bertemu Mahathir, Anwar Ibrahim Kembali Tegaskan akan Jadi PM Malaysia

Internasional
Selamatkan Penumpang, Dokter Ini Isap 800 Ml Urine di Tengah Penerbangan

Selamatkan Penumpang, Dokter Ini Isap 800 Ml Urine di Tengah Penerbangan

Internasional
Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar atas Tuduhan Genosida Rohingya di Sidang PBB

Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar atas Tuduhan Genosida Rohingya di Sidang PBB

Internasional
Tolak Tawaran dari Perusahaan China, Tuvalu Mantap Mendukung Taiwan

Tolak Tawaran dari Perusahaan China, Tuvalu Mantap Mendukung Taiwan

Internasional
'Dibully' Teman Sekelas, Balasan Murid di Malaysia Bikin Kagum Netizen

"Dibully" Teman Sekelas, Balasan Murid di Malaysia Bikin Kagum Netizen

Internasional
Paduan Suara Muslim Thailand Lantunkan 'Doa Perdamaian' untuk Paus Fransiskus

Paduan Suara Muslim Thailand Lantunkan "Doa Perdamaian" untuk Paus Fransiskus

Internasional
Didakwa Korupsi, Perdana Menteri Israel Bersumpah Tidak Akan Mundur

Didakwa Korupsi, Perdana Menteri Israel Bersumpah Tidak Akan Mundur

Internasional
Terlalu Memperhatikan Anaknya, Ibu 17 Tahun Ini Ditembak Mati Tunangan

Terlalu Memperhatikan Anaknya, Ibu 17 Tahun Ini Ditembak Mati Tunangan

Internasional
Perdana Menteri Israel Didakwa Lakukan Korupsi

Perdana Menteri Israel Didakwa Lakukan Korupsi

Internasional
Bocah 12 Tahun Jadi Terdakwa Termuda Demonstrasi di Hong Kong

Bocah 12 Tahun Jadi Terdakwa Termuda Demonstrasi di Hong Kong

Internasional
Hanya Minta Uang Receh, Pengemis di Brasil Ditembak Mati

Hanya Minta Uang Receh, Pengemis di Brasil Ditembak Mati

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Israel Serang Iran di Suriah | Abu Sayyaf Sandera 3 Nelayan Indonesia

[POPULER INTERNASIONAL] Israel Serang Iran di Suriah | Abu Sayyaf Sandera 3 Nelayan Indonesia

Internasional
China Tuduh AS Berusaha 'Menghancurkan' Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

China Tuduh AS Berusaha "Menghancurkan" Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

Internasional
Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X