Kompas.com - 27/03/2016, 16:29 WIB
|
EditorErvan Hardoko

DAMASKUS, KOMPAS.com - Pasukan Suriah yang didukung Rusia merebut kembali kota kuno Palmyra dari tangan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Minggu (27/3/2016).

Setelah memasuki kota kuno itu, para prajurit Suriah kini tengah membersihkan ranjau dan bom yang ditanam ISIS di berbagai situs kuno kota tersebut.

Lembaga Pemantau HAM Suriah menyebut, dalam pertempuran merebut Palmyra ini, ISIS kehilangan setidaknya 400 orang tentaranya.

Sementara di pihak Suriah sebanyak 188 orang prajurit pemerintah dan anggota milisi tewas.

"Ini adalah kekalahan ISIS paling berat dalam satu pertempuran sejak organisasi ini muncul pada 2013," kata Rami Abdel Rahman, direktur Lembaga Pemantau HAM Suriah.

"Ini adalah kekalahan simbolis bagi ISIS dibanding kekalahan mereka di Kobani, kota di perbatasan Turki yang dipertahankan milisi Kurdi saat dikepung ISIS pada 2014-2015," tambah Rami.

ISIS, yang mengklaim mendalangi pengeboman Brussels, kini tengah berada di bawah tekanan dari militer Irak dan Suriah yang terus menekan untuk merebut kota-kota utama yang dijadikan pusat pemerintahan kekalifahan ISIS.

Setelah gagal mempertahankan Palmyra, pasukan ISIS mundur menuju kota Sukhnah dan Deir Ezzor di sebelah timur kota kuno yang ditetapkan menjadi salah satu warisan budaya dunia UNESCO.

Tak hanya sukses merebut kota Palmyra, pasukan Suriah juga berhasil menduduki sebuah bandara di sebelah tenggara kota itu.

"Segelintir anggota ISIS menolak untuk meninggalkan kota itu dan berniat bertempur  hingga titik darah penghabisan," papar Rami.

ISIS menduduki Palmyra pada Mei 2015 dan sejak saat itu mereka menghancurkan banyak peninggalan bersejarah berusia ribuan tahun.

ISIS bahkan menggunakan amfiteater kuno Palmyra sebagai tempat eksekusi publik termasuk memenggal ketua badan purbakala setempat yang berusia 82 tahun.

Keberhasilan pasukan Suriah merebut kembali kota berjuluk "Permata Padang Pasir" itu mendapat sambutan hangat dari ketua UNESCO, Irina Bokova.

"Palmyra telah lama menjadi simbol pembersihan budaya yang terjadi di Timur Tengah," ujar Bokova.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.