Kompas.com - 01/03/2016, 14:50 WIB
Ilustrasi keperawanan foterIlustrasi keperawanan
EditorPascal S Bin Saju

 

KABUL, KOMPAS.com — Para wanita dan gadis Afganistan yang diduga melakukan "kejahatan moral" sering digiring paksa untuk mengikuti tes keperawanan oleh dokter pemerintah. Tes itu meliputi wilayah liang senggama dan lubang anus.

Hal yang menyakitkan yaitu tes keperawanan tersebut disaksikan oleh petugas pria dan diwarnai penyiksaan dengan efek yang mengerikan. Sebagian besar wanita diperiksa lebih dari sekali.

Masalah itu disampaikan oleh Komisi HAM Independen (IHRC) Afganistan, seperti dirilis Reuters, Selasa (1/3/2016). Menurut IHRC, tes keperawanan ini telah menghebohkan Afganistan dan melanggar hak asasi manusia (HAM).

Penegakan HAM dan kehidupan kaum perempuan masih merupakan tantangan terbesar di Afganistan dalam 15 tahun setelah penggulingan rezim garis keras Taliban oleh militer yang didukung Amerika Serikat.

IHRC merujuk sebuah hasil penelitian tahun lalu. Sebanyak 53 wanita dan gadis telah diwawancarai di selusin provinsi di Afganistan. Ada 48 orang di antaranya mengaku dipaksa untuk mematuhi uji ginekologi wajib setelah dituduh berzinah atau melarikan diri dari rumah.

Temuan penelitian ini dipublikasikan Human Rights Watch, Senin. Mereka yang dipaksa mengikuti tes ialah gadis atau wanita yang meninggalkan rumah tanpa izin, termasuk seorang gadis belia berusia 13 tahun. Kasus terakhir ini, menurut hukum Afganistan, bukan kejahatan. 

"Karena tes ginekologi itu dilakukan tanpa persetujuan korban, dapat dianggap sebagai pelecehan seksual dan pelanggaran HAM," kata komisi sambil menambahkan bahwa tes keperawanan itu melanggar semangat konstitusi Afganistan dan prinsip-prinsip internasional.

Otoritas di Kabul mengklaim bahwa tes itu untuk memverifikasi apakah seorang wanita telah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Namun, kebenaran dan efektivitas tes itu telah menimbulkan kehebohan dan dibantah oleh para ilmuwan.

HRC dan IHRC mengatakan, tes itu tidak memiliki dasar ilmiah.

Dalam beberapa kasus, wanita yang tidak dapat membuktikan bahwa mereka masih perawan akan mengalami kekerasan dan penyiksaan pada hari pernikahan. Bahkan ada yang disiksa sampai tewas.

"Ujian keperawanan merendahkan,” kata peneliti senior HRW Heather Barr dalam satu pernyataan. Dia menyerukan kepada pemerintah untuk secara eksplisit melarang tes tersebut dan mengakhiri penangkapan perempuan yang pergi meninggalkan rumah tanpa izin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.