Kompas.com - 14/12/2015, 20:26 WIB
EditorFarid Assifa
KIGALI, KOMPAS.com - Pengungsi asal Burundi di Rwanda direkrut menjadi pemberontak, demikian dilaporkan organisasi nirlaba Refugees International, Senin (14/12/2015).

Organisasi yang berbasis di Amerika Serikat itu menyatakan bahwa pria dan anak-anak di kamp Mahama Rwanda, kamp pengungsi yang didirikan PBB dan otoritas Rwanda, sedang direkrut untuk bergabung dalam "kelompok bersenjata non-negara".

Para pengungsi ini diancam jika menolak ajakan tersebut.

Organisasi amal itu juga mengatakan bahwa pengungsi yang direkrut itu dilatih di Rwanda. Lalu mereka dikirim kembali ke Burundi melalui negara tetangganya, Republik Demokratik Kongo.

"Mempersenjatai pengungsi Burundi di Rwanda bukan hanya mewakili pelanggaran hukum internasional, tetapi juga ancaman serius untuk perdamaian di Burundi dan sekitarnya," kata Michael Boyce dari Refugee International.

"Dalam konteks itu, klaim pengungsi bahwa beberapa pejabat Rwanda menutup mata atas rekrutmen tersebut, dan kemungkinan malah memfasilitasinya, sangat mengganggu," tambah Bocye.

Laporan tersebut menemukan sedikitnya 80 kasus perekrutan, yang sebagian melibatkan pengungsi Rwanda.

Mereka dilatih di Rwanda, diangkut kendaraan militer Rwanda, dan dilatih oleh orang-orang berbahasa Kinyarwanda yang memakai seragam militer.

Pengungsi yang direkrut itu nantinya bergabung dengan kelompok pemberontak Pasukan Nasional Pembebasan (FNL) dan kelompok baru yang bernama Imbogorburundi (Mereka yang akan merebut kembali Burundi.

Krisis Burundi dimulai pada April ketika Presiden Pierre Nkurunziza mengumumkan niatnya mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga yang kontroversial. Dia memenangkan pemilu pada Juli lalu.

Ratusan orang terbunuh, termasuk 87 orang yang tewas pada Jumat (11/12/2015), ketika pemberontak bersenjata menyerang tiga instalasi militer di ibu kota Bujumbura.

Lebih dari 200.000 orang mengungsi dari negara tersebut dalam enam bulan terakhir, menurut data PBB.

Burundi menuding Rwanda mendukung pemberontakan tersebut. Tudingan tersebut disangkal otoritas Rwanda.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.