Kompas.com - 11/11/2015, 14:46 WIB
EditorEgidius Patnistik
KOMPAS.com — Donald Trump, kandidat presiden AS dari Partai Republik yang sering menjadi berita utama, menyerukan pemboikotan terhadap Starbucks setelah perusahaan itu tidak menulis kata-kata "Selamat Natal" atau "Merry Christmas" di gelas-gelas kopi edisi Natal mereka yang berwarna merah.

Jaringan kedai kopi itu telah memproduksi gelas-gelas takeaway edisi Natal sejak tahun 1997, dengan desain yang menampilkan butiran salju atau Father Christmas.

Versi tahun ini, yang dirilis pekan lalu, berwarna merah polos. Hal itu memicu tuduhan dari sejumlah orang bahwa desain tersebut merupakan semacam toleransi politik (politically correct) untuk menyingkirkan agama dari keceriaan akhir tahun.

"Apakah Anda sudah baca tentang Starbucks? Tidak ada lagi Merry Christmas di Starbucks," kata Trump, yang berbicara kepada sekitar 10.000 orang di Springfield, Illinois, pada Senin (9/11/2015) malam.

"Mungkin kita harus memboikot Starbucks."

Trump, yang berusaha untuk memenangkan dukungan dari kaum evangelis dan orang Kristen konservatif lainnya di sebuah lapangan yang penuh sesak itu, sering menyatakan rasa frustrasi terhadap sejumlah perusahaan yang menggunakan istilah "Happy Holidays" untuk menggantikan "Merry Christmas".

Senin lalu, dia mengatakan, "Jika saya menjadi presiden, kita semua akan mengatakan, 'selamat Natal' lagi. Itu yang saya dapat katakan kepada kalian."

Walau gelas-gelas Starbucks sebelumnya telah menampilkan pernak-pernik Natal, seperti anak-anak dengan kereta luncur atau manusia salju, perusahan itu biasanya tidak menuliskan kata-kata "selamat Natal".

Tahun 2005 gelas-gelas Starbucks menampilkan kata-kata, "Ini hanya terjadi sekali setahun", dan tahun 2009, tulisan di gelas-gelas itu berbunyi, "Saya berharap setiap hari merupakan hari libur".

Tahun 2011, gelas-gelas Starbuks menampilkan seorang anak yang sedang bermain dengan seekor anjing di salju, dan kalimatnya berbunyi, "Mari kita cari tahu lagi mengapa kita menjadi teman baik".

Starbucks telah menegaskan bahwa tidak ada motivasi politik atau agama terkait desain itu.

Perusahaan itu mengatakan, tujuan mereka adalah "menciptakan budaya memiliki, inklusi, dan keragaman guna memberi pelanggan sebuah pengalaman yang menggugah semangat musim."

Namun, beberapa orang Amerika yang konservatif telah melihat desain tersebut sebagai serangan terhadap Kristianitas.

Seorang pendeta di Arizona, Joshua Feuerstein, menyarankan agar setiap orang menyebut namanya "Merry Christmas" ketika memesan kopi sehingga kata-kata itu tertulis di gelas kopi yang mereka beli.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.