Kompas.com - 27/08/2015, 06:29 WIB
Penulis Bayu Galih
|
EditorBayu Galih

KOMPAS.com — Burger King dan McDonald's merupakan dua perusahaan yang menguasai bisnis restoran cepat saji dengan mengandalkan burger sebagai sajian utama. Keduanya dikenal sebagai seteru abadi dalam bisnis kuliner modern.

Burger King yang memiliki burger Whopper sebagai senjata andalan tercatat sebagai pesaing utama McDonald's yang mengandalkan burger Big Mac. Persaingan ini tidak hanya terjadi di negara asalnya, Amerika Serikat, tetapi juga saat kedua perusahaan itu mengembangkan bisnis franchise-nya di luar AS, termasuk di Indonesia.

Namun, Burger King mengajak McDonald's untuk melakukan gencatan senjata dalam "perang burger" yang berlangsung sejak lama itu. Perusahaan yang berbasis di Miami, AS, itu kemudian memasang iklan satu halaman penuh di koran yang terbit di AS, yang isinya mengajak "Ronald McDonald dan kawan-kawan" untuk berdamai sehari penuh.

via CNN Iklan yang dipasang Burger King untuk mengajak damai McDonald's
Tidak hanya ajakan damai, Burger King pun mengajak McDonald's untuk melakukan kolaborasi.

"Kami mengajukan kolaborasi antara Burger King dan McDonald's untuk menciptakan sesuatu yang istimewa, sesuatu yang membuat dunia membicarakan Hari Perdamaian itu," demikian yang tertulis dalam iklan yang dipasang Burger King di koran besar, seperti New York Times dan Chicago Tribune tersebut, Rabu (26/8/2015).

Kombinasi itu ditawarkan untuk menciptakan McWhopper, perpaduan Big Mac dengan Whopper. "Setiap bagian terlezat dari Big Mac milikmu dan Whopper milik kami berpadu dalam sebuah burger lezat dan cinta perdamaian," demikian lanjutan dalam iklan tersebut.

Lalu bagaimana cara mewujudkan itu? Dalam proposal perdamaian yang diajukan, Burger King hanya meminta sedikit kru McDonald's untuk mengombinasi bumbu dan resep dengan yang dimiliki Burger King. Momen bersejarah Hari Perdamaian itu ditawarkan Burger King untuk dilakukan pada 21 September 2015.

Proposal itu juga ditawarkan oleh Burger King kepada McDonald's melalui situs khusus, mcwhopper.com.       

Namun, gencatan senjata dalam "perang burger" itu sepertinya tidak akan terwujud. CEO McDonald's Steve Easterbrook menjawab tawaran ini dalam sebuah post di akun McDonald's bahwa mereka menolak tawaran itu.

"Kami cinta dengan niat itu, tetapi berpikir bahwa dua brand ini bisa melakukan sesuatu yang lebih besar untuk menghadirkan perubahan," tulis Easterbrook.

Tidak hanya itu, Easterbrook juga menyesalkan bahasa iklan itu, yang menganalogikan persaingan keduanya bagai sebuah peperangan. Sebab, persaingan itu menurut Easterbrook tidak sebanding dengan "kepedihan dan penderitaan dalam perang sesungguhnya".

"Lain kali, percakapan sederhana (dalam mengajukan penawaran) melalui telepon akan lebih baik," tulis Easterbrook.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.