Kompas.com - 09/07/2015, 18:16 WIB
EditorErvan Hardoko
NEW YORK, KOMPAS.com - Rusia menggunakan hak vetonya, Kamis (9/7/2015),
untuk menggagalkan sebuah rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang akan mengakui pembantaian di Srebrenica sebagai sebuah genosida.

Sebelumnya Inggris mengajukan rancangan resolusi itu sekaligus untuk memperingati 20 tahun pembantaian 8.000 umat Muslim, termasuk anak-anak, oleh pasukan Serbia Bosnia pada Juli 1995.

Tragedi yang terjadi di kota Srebrenica itu menjadi kejahatan perang terbesar di Eropa sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Dalam pemungutan suara yang digelar DK PBB itu, Angola, China, Nigeria dan Venezuela memilih abstain. Sementara 10 anggota DK PBB lainnya memilih mendukung resolusi dan mengecam pembantaian tersebut.

Veto yang dilakukan Rusia itu disambut hangat pemerintah Serbia yang mengatakan "ini adalah hari terbaik untuk Serbia". Namun pemimpin kelompok korban pembantaian, Para Ibu Srebrenica, menuding Moskwa telah mendukung para penjahat yang membunuh anak-anak.

Sebelumnya, pemerintah Serbia dan Serbia-Bosnia mendesak Rusia untuk menggunakan hak veto untuk menggagalkan resolusi DK PBB itu.

Kedua pemerintah tersebut mengatakan resolusi tersebut dianggap "anto-Serbia" karena hanya menekankan bulan-bulan terakhir perang yang menewaskan lebih dari 100.000 orang itu.

Sementara itu, duta besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin menyebut rancangan resolusi itu "tak konstruktif, konfrontatif dan berlatar belakang politik".  Rusia juga beranggapan bahwa resolusi itu secara tidak adil menuding hanya pihak Serbia-Bosnia yang melakukan kejahatan dalam perang tersebut.

"Rancangan resolusi yang ada di hadapan kita ini tidak akan membantu perdamaian di Balkan namun justru akan menghancurkan kawasan itu," kata Churkin dalam sidang DK PBB yang dimulai dengan mengheningkan cipta untuk mengenang para korban.

Wakil Dubes Inggris untuk PBB, Peter Wilson menuduh Rusia memihak "mereka yang tak ingin menerima fakta yang ada". "Genosida memang terjadi di Srebrenica. Ini adalah fakta hukum, bukan keputusan politik. Dalam hal ini tak ada kompromi," ujar Wilson.

Selama 24 jam terakhir Inggris, Rusia dan AS melakukan negosiasi untuk menghindari veto. Namun Moskwa menolak untuk mengubah posisinya dalam masalah ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.