Kompas.com - 02/07/2015, 21:34 WIB
EditorErvan Hardoko
NEW DELHI, KOMPAS.com — Seorang menteri India, Kamis (2/7/2015), menyampaikan permintaan maaf setelah tiga penumpang diminta turun dari sebuah penerbangan domestik sehingga menteri itu bisa mendapatkan kursi.

Insiden yang terjadi pada pekan lalu itu kemudian menyebar di media sosial, dan mengakibatkan menteri muda Kiren Rijiju menerima hujan kecaman dari netizen.

Meski meminta maaf, Kiren bersikukuh, dia tak mengetahui bahwa beberapa penumpang dipaksa turun agar dia dan rombongannya bisa mendapatkan kursi di dalam pesawat milik maskapai Air India itu.

"Saya tidak mengetahui soal penumpang yang diturunkan, dan saya sudah menyampaikan rasa penyesalan terkait insiden itu. Jika saya tahu, saya pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi," kata Kiren.

Kiren justru menyalahkan maskapai penerbangan milik negara itu, yang mengganti jadwal keberangkatan dari kota Leh menuju New Delhi yang akhirnya "menyulitkan semua orang".

Meski informasi pasti soal jumlah penumpang yang dipaksa turun belum diperoleh, sejumlah laporan menyebut tiga penumpang "dikorbankan" demi sang menteri. Sejauh ini, manajemen Air India belum memberikan komentar.

Sementara itu, Menteri Penerbangan Sipil India Ashok Gajapathi Raju mengatakan, pihaknya akan mengirimkan laporan rinci kepada PM Narendra Modi setelah kementeriannya diminta menjelaskan penundaan penerbangan akibat ulah para pejabat.

"Kami harus mendapatkan kebenaran dari masalah ini. Semua lini akan diperiksa, dan berdasarkan pemeriksaan itu, kami akan memberikan laporan," kata Raju.

"Kami berjanji akan melakukan langkah-langkah demi mencegah insiden semancam ini terjadi lagi pada masa mendatang, dan kami meminta maaf kepada semua orang yang merasa dirugikan," tambah Raju.

Peristiwa ini terjadi setelah awal pekan ini penerbangan Air India ke New York tertunda karena harus menunggu kedatangan menteri utama negara bagian Maharashtra, Dvendra Fadnavis, yang datang terlambat.

Fadnavis kemudian membela diri lewat akun Twitter-nya. Dia mengatakan, tuduhan yang menyebut dia memaksa pesawat menunda jadwal penerbangan ke New York tidak benar dan tak berdasar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.